Evaluasi Diri dalam Perspektif Islam

Akhir tahun tepatnya bulan Desember acap kali diwarnai dengan tradisi evaluasi diri. Orang berbondong-bondong melirik kembali catatan impian yang ditorehkan di awal tahun, apakah impian tersebut telah terlaksana, gagal, atau sama sekali tidak diusahakan. Namun, haruskah kita mengevaluasi diri?


evaluasi diri
sumber: unsplash


Secara garis besar, evalusi diri memiliki beberapa manfaat, diantaranya:


1. Lebih mengenal diri

Mengevaluasi diri akan memicu seseorang untuk memahami diri lebih dalam. Orang yang mengevaluasi diri akan menggali kelebihan dan kekurangan diri yang didapat melalui proses penilaian pribadi maupun meminta bantuan orang lain untuk mengevaluasi dirinya dengan durasi waktu tertentu.

2. Motivasi lebih baik lagi

Proses evaluasi diri kadang disalahartikan sebagai proses mencari-cari kesalahan sehingga membuat diri terpuruk atau menyakiti diri, padahal evaluasi merupakan proses untuk membuat diri lebih baik lagi. Evaluasi diri bukan hanya berhenti pada pencarian kesalahan, melainkan membuat diri berpikir untuk lebih baik lagi dari sebelumnya.

3. Menghindari kesalahan yang sama

Evaluasi diri mengarahkan kita untuk menghindari kesalahan yang sama. Adanya evaluasi, memberikan kita rambu-rambu di masa mendatang agar tidak mengulangi hal yang sama.


Evaluasi Diri dalam Perspektif Islam

Sebagaimana dalam surah Al-'Asr, Allah menjelaskan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. Oleh sebab itu, evaluasi diri diperlukan agar terhindar dari golongan yang merugi.


Lebih lanjut mengenai evaluasi diri, Islam memberikan petunjuk secara tegas melalui QS. Al-Hasyr ayat 18 yang berbunyi:

Wahai orang-orang yang beriman! Bertawakalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan


Islam mengajarkan orang beriman untuk senantiasa mengevaluasi diri untuk memperhatikan apakah sudah cukup bekal pulang ke tempat asal (akhirat) jika sewaktu-waktu kematian mendatangi.


Konsep evaluasi diri dalam pandangan Islam bukan hanya sebagai penilaian terkait hasil yang didapatkan selama berusaha mengejar dunia. Konteks evalusi diri dalam Islam lebih luas daripada itu semua, karena orang beriman mempercayai adanya kehidupan yang kekal setelah kehidupan yang sementara. 


Evaluasi diri menurut kacamata Islam dilakukan dalam keadaan berhasil maupun gagal, sebelum, saat, dan sesudah. Sangat bebeda bukan, dengan konsep evaluasi pada umumnya yang berfokus pada kegagalan saja?


Kondisi untuk mengevaluasi diri

Evaluasi diri perlu dilakukan baik berhasil maupun gagal, baik sebelum, saat, atau sesudah target tercapai karena dalam Islam kita mengenal namanya setan. Surah Al-A'raf ayat 14 - 17 menerangkan isi pidato setan yang menyatakan akan selalu menghalangi manusia dari jalan yang lurus dengan segala cara dan dari arah mana saja.


Adapun hal-hal yang perlu dievaluasi adalah niat (sebelum berusaha, saat berusaha, dan setelah berusaha) yang senantiasa dipanjatkan untuk mendapatkan ridho dari Allah, ikhtiar dengan cara terbaik, dan berdoa. 


Misalnya, saat kita berhasil menggapai target A maka setan akan menggoda kita untuk berlaku sombong, baik itu sombong kepada orang lain maupun menganggap keberhasilan datangnya dari kerja keras sendiri tanpa pertolongan Allah SWT.


Teknik Evaluasi Diri dalam Islam

Sebuah tempat belajar online bernama mira institute yang diselenggarakan oleh Ustadz Adi Hidayat memberikan nasihat terkait evaluasi diri melalui sholat lima waktu.

evaluasi diri


Sholat lima waktu atau yang kerapa dikenal dengan sholat fardhu terdiri dari waktu subuh, zuhur, ashar, maghrib, dan isya. Setiap sholat kita membaca surah Al-Fatiha yang isinya secara tidak langsung meminta kepada Allah SWT agar selalu ditunjukkan pada jalan yang lurus.


Sholat lima waktu bisa diisi dengan rangkaian rencana dan evaluasi. Misalnya, memikirkan terlebih dahulu rencana apa yang akan dilakukan pada waktu subuh hingga zuhur, lalu ketika selesai sholat subuh berdoa kepada Allah SWT agar rencana tersebut diridhoi dan mengandung banyak berkah. Selanjutnya ketika memasuki sholat zuhur, seusai sholat kembali mengevaluasi diri apakah rencana tersebut sudah berjalan dengan semestinya dan memohon ampun kepada Allah SWT dan kemudian melaporkan kembali rencana dari zuhur menuju ashar, dan seterusnya.


Konsep lima waktu tersebut memberikan manfaat untuk mengulas niat dan ikhtiar dalam rangka mengumpulkan bekal pulang ke akhirat.  Selain itu, waktu untuk mengevaluasi diri dalam kurun waktu cukup lama adalah saat bulan Ramadhan. Ada apa dengan bulan Ramadhan?. Nantikan jawabannya pada artikel berikutnya hehe...


Begitulah evaluasi diri dalam perspektif Islam. Bismillah ya, yok semangat dan terus beristighfar memohon ampunan Sang Illahi.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama