Depresi dan Bunuh Diri: Bagaimana Cara Membantu Orang yang Ingin Bunuh Diri?

Baru-baru ini kita digemparkan dengan berita seorang wanita belia yang memilih untuk mengakhiri hidupnya akibat depresi. Banyak sumber mengatakan bahwa depresi yang dialami seseorang dapat memicu tindakan bunuh diri, tapi tahukah kamu bahwa ada banyak jenis depresi? Bagaimana depresi dapat menjadi penyebab bunuh diri? dan Bagaimana cara untuk melawan depresi?

Pada postingan kali ini kita akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sehingga dapat menambah wawasan kita tentang apa sebenarnya yang harus dilakukan dalam menghadapi depresi.


*Catatan: postingan ini dibuat hanya untuk tujuan edukasi sehingga tidak dimaksudkan sebagai pengganti saran, diagnosis, atau perawatan medis profesional

 


Jenis-Jenis Depresi

Depresi adalah kondisi kesehatan mental yang paling sering didiagnosis, tetapi tahukah Anda bahwa istilah depresi dapat merujuk pada beberapa diagnosis yang berbeda? Depresi datang dalam berbagai bentuk dan mempengaruhi setiap orang dengan cara yang berbeda yang mengarah ke beberapa klasifikasi. Mari kita lihat beberapa jenis depresi yang umum ditemui.

  1. Depresi Klinis. Menurut APA, gangguan depresi mayor, atau dikenal sebagai depresi klinis, adalah gangguan depresi yang ditandai dengan suasana hati yang terus-menerus rendah, kehilangan minat pada aktivitas favorit Anda, dan kurangnya motivasi untuk melakukan tugas-tugas dasar.
  2. Depresi Persisten. Gangguan depresi persisten (PDD), adalah gangguan depresi yang mirip dengan depresi klinis namun sifatnya lebih tahan lama. Gejala-gejalanya juga serupa dengan MDD namun terjadi hampir setiap hari.
  3. Gangguan bipolar. Gangguan bipolar adalah suatu gangguan mental yang menyebabkan terjadinya perubahan mood yang ekstrem. Periode dramatis dari suasana hati yang tinggi dan rendah pada gangguan bipolar seringkali tidak dapat diprediksi dan kadang-kadang dapat terjadi pada waktu yang sama. 
  4. Gangguan afektif musiman atau SAD. Umumnya dikenal sebagai winter blues, gangguan afektif musiman adalah suatu gangguan suasana hati yang ditandai oleh depresi, yang terjadi pada waktu sama setiap tahun. Pola yang khas adalah terjadinya episode depresi selama bulan-bulan musim gugur atau musim dingin, tetapi dalam beberapa kasus dapat terjadi pada musim semi dan musim panas. 
  5. Depresi pascapersalinan (Baby blues). Depresi pascapersalinan adalah episode depresi yang mempengaruhi beberapa wanita dalam waktu empat minggu sampai enam bulan setelah melahirkan. 
  6. Gangguan Dysphoric Pramenstruasi atau PMDD. Gangguan dysphoric pramenstruasi adalah gangguan yang tidak biasa pada wanita yang dimulai seminggu sebelum menstruasi dan mereda dalam beberapa hari pertama menstruasi. 
  7. Depresi atipikal. Depresi atipikal (juga disebut depresi berat dengan ciri-ciri atipikal) adalah jenis depresi tertentu di mana gejalanya berbeda dari kriteria tradisional. Salah satu gejala khusus untuk depresi atipikal adalah peningkatan suasana hati sementara sebagai respons terhadap peristiwa positif aktual atau potensial. Ini dikenal sebagai reaktivitas suasana hati.
  8. Depresi psikotik. Depresi psikotik adalah subtipe dari depresi mayor yang terjadi ketika penyakit depresi berat mencakup bentuk psikosis. Psikosis dapat berbentuk halusinasi, melihat atau mendengar hal-hal yang tidak, ada dan memiliki keyakinan yang salah.

Mengapa Depresi Menyebabkan Bunuh Diri

Kebanyakan orang pasti pernah memiliki pikiran untuk bunuh diri, walau hanya sekilas, pada beberapa waktu yang menyulitkan di dalam hidupnya. Tetapi, biasanya mereka melawannya gagasan tersebut dengan berpikir bahwa akan ada kehilangan besar yang dirasakan oleh diri sendiri maupun orang-orang sekitar yang dicintainya. Disinilah fungsi kognitif manusia bekerja dengan logis dan rasional, dengan mempertimbangkan kemungkinan risiko  yang akan terjadi. Depresi pada dasarnya merusak fleksibilitas kognitif tersebut. Keadaan ini mengubah pola pikir dan perasaan sehingga mereka yang menderita depresi tidak dapat melihat jalan keluar dari permasalahan yang mereka alami. Mereka juga menjadi tidak mampu membayangkan kemungkinan masa depan yang lebih baik.

Mereka yang mengalami depresi biasanya bukan hanya merenungkan situasi mereka saat ini tetapi juga semua kemunduran, kehilangan, kegagalan, pengalaman yang menyakitkan dan segala hal negatif yang telah merek alami. Selain itu, depresi memperbesar persepsi rasa sakit. Hal ini mnejadikan gagasan tentang bunuh diri sebagai satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari penderitaan dan rasa sakit psikis tersebut.

Lebih dari hanya sebagai upaya untuk mengakhiri hidup, bunuh dipandang sebagai jalan untuk melarikan diri dari rasa sakit mental, kegagalan, dan pikiran negatif yang tak ada habisnya oleh orang-orang yang mengalami depresi. Penolakan dalam bentuk apa pun (seperti putusnya hubungan, pengucilan dari pergaulan, dll) adalah salah satu pengalaman terberat yang dapat dialami manusia yang dapat menciptakan begitu banyak penderitaan emosional di kalangan orang anak muda.

Studi menunjukkan bahwa area otak yang sama yang diaktifkan oleh rasa sakit fisik diaktifkan ketika kita mengalami penolakan. Namun tidak seperti rasa sakit fisik, rasa sakit psikologis dapat terus berputar di otak; setiap kali pengalaman seperti itu diingat, rasa sakit itu dialami kembali dalam semua intensitas emosionalnya yang akut.
Studi menunjukkan bahwa area otak yang diaktifkan oleh rasa sakit fisik sama dengan area otak yang diaktifkan ketika kita mengalami penolakan. 
Berbeda dengan rasa sakit fisik, rasa sakit psikologis dapat terus berputar tanpa henti di otak. Setiap kali pengalaman seperti itu diingat, rasa sakit itu dialami kembali dalam semua intensitas emosionalnya yang akut.

 


Bagaimana Cara Membantu Orang yang Ingin Bunuh Diri?

Pada bagian awal telah disebutkan bahwa untuk menangani gangguan depresi diperlukan perawatan khusus dari professional, namun kita juga dapat mengambil peran untuk melakukan pencegahan terjadinya bunuh diri pada orang-orang yang kita kenal. Berikut adalah 13 tips tentang cara bernegosiasi dengan seseorang yang mungkin berada di posisi tersebut.

1. Kenali tanda-tandanya. Penting untuk mengenali tanda-tanda seseorang yang mungkin akan melakukan tindakan bunuh diri. Tanda-tanda ini bisa berupa ancaman atau komentar tentang bunuh diri, menarik diri dari lingkungan sosial isolasi tiba-tiba, perubahan suasana hati yang dramatis, berbicara atau menulis tentang kematian, peningkatan penggunaan alkohol atau narkoba, perilaku agresif, dan perilaku impulsif. Jika kita mendapati ada banyak pertanda seperti yang telah disebutkan, kita akan menjadi lebih yakin untuk mulai mebicarakan ini dengan orang tersebut atau tidak.

2. Tanyakan kepada mereka bagaimana keadaannya. Jika kita ingin mulai mendekati mereka saat kita khawatir, tanyakan saja bagaimana keadaannya. Sederhana, "Halo," atau, "Bagaimana perasaanmu?" dapat berarti dunia yang berbeda bagi seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan. Mereka barangkali terlalu takut untuk bertanya. Jika mereka mulai terbuka, kita harus ada di sana untuk mendengarkan.
 
3. Tanyakan secara spesifik tentang bunuh diri. Jika kita memiliki firasat kuat bahwa seseorang mungkin sedang berpikir untuk bunuh diri, tanyakan saja kepada mereka apakah mereka sedang mempertimbangkan untuk bunuh diri. Hal ini kemungkinan besar dapat mencegah mereka unutk menjalaninya. Penelitian mendapati bahwa mengakui bunuh diri dan mendiskusikannya dapat mengurangi gagasan untuk melakukan bunuh diri. Tanyakan kepada mereka, "Apakah Anda berpikir untuk bunuh diri?" Ini mungkin menunjukkan kepada mereka bahwa kita terbuka untuk membicarakannya dan tidak menghakimi topik tersebut. Langkah selanjutnya adalah tetap bersama mereka dan mendengarkan perasaan mereka.
 
4. Tetap bersama mereka. Selain tinggal bersama mereka, penting untuk proaktif dalam mendukung kesehatan mental mereka. Kita bisa belajar untuk melakukan pertolongan pertama psikologis model RAPID yaitu dengan mendengarkan reflektif, penilaian kebutuhan, prioritas, intervensi, dan disposisi;
 
5. Jaga agar tetap aman dan singkirkan barang-barang berbahaya. Setelah menanyakan apakah ada pikiran untuk bunuh diri, tanyakan apakah mereka sudah melakukan sesuatu untuk mencoba bunuh diri. Apakah mereka tahu bagaimana mereka akan melakukannya? Apakah mereka punya rencana? Temukan jawaban ini dan kemudian tentukan apakah ini keadaan darurat yang membutuhkan bantuan tambahan. Jika mereka tampak dalam keadaan yang cukup berbahaya, singkirkan barang-barang berbahaya sejauh mungkin. Hal Ini dapat mencakup benda tajam seperti pisau, obat-obatan, produk pembersih, kabel, tali, ikat pinggang, atau tali.
 
6. Akui bahwa perasaan mereka sah-sah saja. Penting untuk mengakui bahwa perasaan mereka nyata dan tidak boleh diabaikan. Kita tidak disarankan untuk mengatakan hal-hal seperti, "Berbahagialah," atau, "Singkirkan saja perasaan itu." Menyarankan solusi yang cenderung memudahkan mungkin juga ide yang tidak terlalu tepat karena mereka mungkin menjadi defensif atau merasa ditolak, tidak didengar, atau bersalah.
 
7. Ulangi kata-kata mereka dengan cara kita sendiri. Sangat penting untuk secara aktif mendengarkan apa yang mereka katakan. Setelah mereka selesai berbicara, ulangi kata-kata mereka kembali dengan kata-kata kita sendiri untuk menunjukkan bahwa kita telah mendengarkan. Ini menunjukkan kepada mereka bahwa kita peduli dan ada untuk mereka.
 
8. Berempati dengan mereka. Berempati adalah dengan menunjukkan bahwa kita berempati dengan seseorang seolah kita ikut merasakannya. Hal ini dapat membantu mereka mengetahui bahwa seseorang benar-benar peduli dengan apa yang mereka rasakan. Kita dapat mencoba mengungkapkannya dengan mengatakan, "Saya mungkin tidak tahu persis apa yang Anda alami" atau rasa sakit yang Anda alami, "tetapi saya ingin mencoba memahaminya."
 
9. Dorong mereka untuk fokus melewati hari ini. Membayangkan untuk melanjutkan hidup ketika kita merasa putus asa memang terasa sangat sulit sehingga bunuh diri muncul sebagai satu-satunya jalan keluar. Oleh karena itu, jauh lebih mudah untuk melewati hari demi hari. Dorong mereka untuk melewati hari ini daripada berfokus pada kekacauan rumit yang bisa menjadi masa depan kita. Hidup kita bisa berubah dari malang menjadi beruntung dalam sekejap.
 
10. Identifikasi sebuah pengait (hook). Satu hal yang dapat membantu seseorang untuk terus hidup adalah mengidentifikasi pengait (hook) dalam hidup mereka yang berarti bagi mereka. Apa yang penting bagi mereka? Apa yang memegang makna dan nilai dalam hidup mereka? Mungkin mereka memiliki keluarga yang mereka cintai atau hewan peliharaan yang membutuhkan perawatan mereka. Bagaimana dengan pekerjaan yang mereka nikmati atau sesuatu yang mereka sukai. Tanyakan kepada mereka dan terus merujuk kembali ke kait ini sebagai cara untuk membuat mereka fokus pada apa yang penting dalam hidup mereka. Namun, hal ini mungkin bukan ide yang baik jika malah mereka merasa bersalah kepada keluarga atau orang yang mereka cintai. Tujuannya adalah untuk mengingatkan mereka tentang apa yang mereka hargai dan membuat mereka merasa lebih baik, bukan malah merasa lebih buruk tentang diri mereka sendiri.
 
11. Tawarkan dukungan dan harapan. Jika kita tetap bersama mereka selama masa krisis, kita sudah memberi mereka sebuah bentuk dukungan. Selanjutnya adalah memberikan harapan. Sebutkan kekuatan mereka. Tatap mata mereka dan katakan beberapa hal seperti, "Saya tahu kita bisa melewati ini bersama." Sebutkan seberapa kuat mereka dan beraninya berjuang melewati masa-masa sulit selama ini. Beri mereka harapan yang mereka butuhkan untuk terus berjalan.
 
12. Jangan mengecilkan masalah mereka atau mengatakan sesuatu yang menghakimi. Bagian penting dari semua ini adalah tidak menghakimi. Jangan mengecilkan masalah mereka atau membandingkannya dengan orang lain secara negatif. Hanya karena menurut kita masalah tersebut mudah untuk diselesaikan, tidak berarti hal ini mudah untuk mereka. Setiap orang berbeda, dan setiap orang menangani emosi dan situasi mereka secara berbeda.
 
13. Bantu mereka mengembangkan rencana keselamatan (Safety Plan). Rencana ini digunakan untuk membantu individu ketika mulai muncul pikiran untuk bunuh diri kembali, atau ketika mereka berada dalam krisis. Rencana ini berisikan langkah-langkah yang harus mereka ambil ketika keadaan mulai memburuk. Hal-hal yang perlu disertakan dalam rencana krisis adalah seperti tidak sendirian, memindahkan benda-benda tertentu yang berpotensi berbahaya, dan berbicara dengan saluran bantuan, orang terkasih, atau profesional. Hal lainnya yang dapat ditambahkan ke daftar adalah teknik pengalih perhatian seperti membaca buku yang bagus atau menulis di jurnal. Selain itu, hal penting untuk dimasukkan ke dalam rencana mereka adalah mencari bantuan profesional jika mereka berada dalam krisis.


Sumber:





Post a Comment

Lebih baru Lebih lama