Makna Lagu Sandaran Hati : Letto, Renungan Hamba Kepada Tuhan


Sebuah lagu mestilah memiliki arti dan makna yang hendak disampaikan, baik secara tersirat ataupun tersurat. Lirik atau syair lagu selayaknya puisi mestilah mempunyai pesan tersebut. Sebagaimana yang dikatakan Jan Van Luxemburg (1989), definisi mengenai teks-teks puisi tidak hanya mencakup jenis-jenis sastra melainkan juga ungkapan yang bersifat pepatah, pesan iklan, semboyan-semboyan politik, syair-syair lagu pop dan doa-doa.


Banyak mahakarya yang telah dicipatkan oleh musisi Indonesia. Salah satunya adalah lagu legendaris dari band Letto – Sandaran Hati. Lagu yang mengingatkan saya pada masa-masa remaja dulu. Sandaran Hati merupakan mahakarya yang tidak hanya sekedar lagu yang enak didengar atau mampu membuat hati lebih nyaman, tetapi ada makna yang fantastis didalamnya. 


Makna lirik lagu sandaran hati mampu membuat kita merenung sejenak tentang hakikat seorang hamba pada Tuhannya. Kehadiran keresahan dan kegalauan yang dialami manusia bisa jadi bentuk kerinduan Tuhan pada hamba-Nya. Ya, sandaran hati merupakan pesan seorang hamba pada Tuhannya. Tanpa basa-basi langsung saja sob kita bahas. Check it out!

 

Bait 1 Sandaran Hati

Yakinkah ku berdiri, di hampa tanpa sepi
Bolehkah aku mendengarmu
Terkubur dalam emosi, tanpa bisa sembunyi
Aku dan nafasku merindukanmu



Pada bait ini, kata “Yakinkah” menunjukan betapa kecilnya manusia. Ketika hidup, banyak keraguan yang dialami manusia. Kebimbangan ini membawanya menuju sosok yang dapat memberikan sebuah pesan yang mampu menguatkanya, ini ditegaskan pada baris kedua “Mendengarmu.” 


Hal menarik pada baris ketiga, ketika hati yang hampa dan tak ada seseorangpun yang bisa menguatkanya, kini ia pun semakin terkubur dalam emosi. Ia pun tak sanggup lagi untuk bebohong tentang kehampaan yang dialami. Pada baris keempat, ia benar-benar tak tahan lagi dan sangat merindukan sosok yang mampu memberinya kekuatan. Ya, hanya Tuhan yang mampu menguatkan manusia ciptaan-Nya.


Bait 2 Sandaran Hati

Terpurukku di sini, teraniaya sepi
Dan kutahu pasti kau menemani
Dalam hidupku, kesendirianku



Bait kedua ini menunjukan kondisi ia yang semakin terpuruk akan kehampaan dalam menentukan arah kehidupan. Namun, ia sangat yakin dengan sepenuh hati bahwa sosok yang ia cari akan memberinya ketenangan. Dan ia meyakini bahwa hanya ada satu sosok yang tepat untuknya bersandar, ia adalah Tuhan.


Bait Ke 3 Sandaran Hati

Teringat ku teringat, pada janjimu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri, kulakukan sepenuh hati
Peduli ku peduli, siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti, jika kaulah sandaran hati
Kaulah sandaran hati

 

Bait ke 3 yang merupakan reff lagu ini tentu memiliki makna yang sangat nendang. “Teringat” & “Janji” kedua kata ini merujuk pada Firman-Nya yang tertulis dalam kitab-Nya bahwa Tuhan berjanji pada hamba-Nya mengenai arah kehidupan yang terbaik. 


Lalu pada baris kedua ada kata “Berdiri” dan “Sepenuh hati” menunjukan seorang hamba yang mendirikan ibadah sepenuh hati akan membuatnya lebih tenang.  Kemudian pada baris selanjutnya lebih menegaskan bahwa kesedihan seorang hamba tidak akan ada artinya jika dibawa kehadapan Tuhan. Oleh karenanya, sebaik-baiknya tempat bersandarnya hati adalah Sang pemilik hati itu sendiri.


Bait Ke 4 Sandaran Hati

Inikah yang kau mau, benarkah ini jalanmu
Hanya engkau yang ku tuju
Pegang erat tanganku, bimbing langkah kakiku
Aku hilang arah tanpa hadirmu, dalam gelapnya malam hariku

 

Bait terakhir menggambarkan seorang hamba yang berjalan menuju jalan-Nya dengan penuh keyakinan. Tak pula lupa untuk memohon kepada-Nya untuk menguatkan dan membimbing langkah menuju jalan yang benar, karena ia tahu bahwa manusia adalah mahluk yang lemah. Manusia bisa kapan saja hancur sebab kehampaan hati masalah yang berat. Hati kalau tidak diisi dengan hal baik maka hal buruk akan menyertai, tentu bijak meminta pertolongan-Nya.


***


Setiap karya pastilah memiliki arti dan perasaan di dalamnya. Bagi saya, "Sandaran Hati" menjadi mahakarya yang legendaris. Bukan cuma sekedar enak didengar dan mampu membuat hati yang nyaman. Tapi maknanya mampu membuat kita kembali merenung bahwa sebagai manusia yang lemah dan hati yang rapuh, sudah seharusnya memohon dikuatkan hanya kepada pemiliki jiwa dan hati ini.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama