Makna Lagu Cindai : Siti Nurhaliza, Seorang Gadis Yang Patah Hati

 

Baju Nikahan Melayu

Beberapa hari yang lalu saya sedang memutar lagu yang ada di youtube dan terputar lagu Cindai yang dicover oleh musisi Indonesia. Hal pertama yang terbesit dari hatiku adalah “Wow, betapa manis lagu ini. Begitu nyaman didengar.” Lagu yang ditulis oleh Datuk Suhaimi Mohammad Zain ini memiliki energy yang dahsyat.

Sejenak pikiran carut marut oleh tumpukan tugas dan serakan deadline menjadi sedikit lebih tenang. Kebanggaan sebagai seorang berdarah melayu pun kian bertambah selepas mendengar lagu ini. Saya akhirnya membulatkan keputusan untuk mencari tahu makna lagu ini dan menuliskannya kembali untuk berbagi kepada temans sekalian hihii..

Setelah saya cari tahu makna dan arti lagu ini, eh siapa sangka dibalik lagu gagah nan ceria itu memiliki makna yang mengsedih. Makna lagu cindai ini secara keseluruhan menceritakan tentang kekecewaan seseorang yang mencoba untuk bertahan mejalani hidup yang berat yakni ditinggal oleh sang separuh hatinya.

Cindai sendiri memiliki arti sebagai jenis kain yang digunakan oleh orang Melayu zaman dahulu (semacam kain songket Palembang) yang dipakai oleh kaum wanita. Kadangkala digunakan sebagai alat perang karena kain cindai ini kokoh nan kuat, tidak mudah koyak karena begitu tebalnya, bahkan musuh pun bisa tumbang oleh lilitan kain cindai ini.

Menurut bahasa Melayu Palembang dan Jambi, cindai adalah sebutan untuk sebuah kiasan orang yang bersedih karen cinta bertepuk sebelah tangan. Sementara, di daerah Melayu lainnya Cindai dimaknai sebagai hantu yang mengerikan yang tak boleh dipandang wajahnya. Baik, berikut makna lagu cindai di setiap baitnya, Check it out!!

 

Bait 1 Cindai :

Cindailah mana tidak berkias
Jalinnya lalu rentah beribu
Bagailah mana hendak berhias
Cerminku retak seribu


Kata cindai pada bait pertama ini melambangkan kain yang terjalin kuat, namun ketika ia berwujud sebagai seorang manusia, ia adalah sosok yang berduka dan bersedih karena kehilangan cinta yang kemudian mengasingkan diri bagai hantu Cindai yang tak boleh dilihat. Ia pun menganggap dirinya hantu karena tidak ada yang memperdulikan dirinya dan ia pun seolah sudah mati sebab kekecewaannya itu. Biarpun Cindai berusaha menjalani hidupnya dengan berhias, malang nasibnya cermin pun retak seribu tak bisa lagi menyelamatkan hatinya.

 

Bait 2 Cindai :

Mendendam unggas liar di hutan
Jalan yang tinggal jangan berliku
Tilamku emas cadarnya intan
Berbantal lengan tidurku


Pada bait ke-2 ini, diceritakan bahwa Cindai sebagai sosok yang kaya raya memiliki tilam emas dan cadar intan tetapi, harta kekayaan itu juga tidak bisa mengatasi masalah hati yang ia alami. Cindai pun tertidur berbantalkan lengan melambangkan betapa sedihnya ia.


Bait 3 Cindai :

Hias cempaka kenanga tepian
Mekarnya kuntum nan idam kumbang
Puas ku jaga si bunga impian
Gugurnya sebelum berkembang


Pada bait ke-3 ini dijelaskan bahwa Cindai merasa kecewa sebab cinta yang tak terbalas. Cindai bagaikan bunga mekar mengidamkan kumbang, namun sayang kumbang tak kunjung datang dan bunga yang hendak berputik itu sudah layu.

 

Bait 4 Cindai :

Hendaklah hendak hendak ku rasa
Puncaknya gunung hendak di tawan
Tidaklah tidak tidak ku daya
Tingginya tidak terlawan


Bait ke-4 ini menceritakan kekecewaan Cindai yang tak berhujung. Harapan dan cintanya setinggi gunung yang hendak ia tawan, tetapi masih gagal juga untuk memenangkan hati sang pujaan.


Bait 5 Cindai :

Janganlah jangan jangan ku hiba
Derita hati jangan dikenang
Bukanlah bukan  bukan ku pinta
Merajuk bukan  berpanjangan


Bait ke-5 ini menggambarkan kisah percintaan Cindai tersebut yang begitu menderita namun tidak mau mengenangnya lebih lama. Ia terus berusaha membujuk hatinya untuk tidak mengenang pahit cinta yang berkepanjangan.

 

Bait 6 Cindai :

Akar beringin tidak berbatas
Cuma bersilang paut di tepi
Bidukku lilin layarnya kertas
Seberang laut berapi


Bait ke-6 ini sungguh sedih sekali kisah cinta si Cindai. Ia sadar karena telah mencintai orang yang salah. Perahu kertas yang melambangkan dirinya sedangkan sang pujaan adalah lautan api (langit dan bumi, perbedaan kasta, dll). Ia sadar mustahil baginya untuk bersama sang pujaan, tapi hati jatuh pada siapa saja yang dikehendaki, Cindai tak mampu untuk mengatasi itu.  

 

Bait 7 Cindai :

Gurindam lagu bergema takbir
Tiung bernyanyi pohonan jati
Bertanam tebu dipinggir bibir
Rebung berduri di hati


Bait ke-7 cindai mencoba mengatakan persoalan yang dihadapi. Sang kekasih bagai menanam tebu dipinggir bibir amat begitu manis, namun nyatanya semua itu tidak benar yang ada malah menyakiti hati. Perbedaa antara manis ucapan dan kotornya hati ini disebutkan sebagai rebung berduri, manis namun berduri.


Bait 8 Cindai

Laman memutih pawana menerpa
Langit membiru awan bertali
Bukan dirintih pada siapa
Menunggu sinarkan kembali


Akhirnya pada bait 8 ini Cindai menyerah dan menyatakan maksudnya pada bait ini bahwa ia tak bermaksud membuka aib sang kekasih. Ia hanya hendak bercerita menyatakan kesedihan sembari berharap masa depan akan bersinar lagi.

***

Sungguh, setelah membaca makna di setiap bait syair lagu Cindai, bertambahlah nilai keindahan lagu ini. Lagu yang tak sembarang dibuat, yang terlihat tidak sederhana namun nyaman di telinga. Betapa besar dan tinggi budaya Melayu dalam bidang seni tulis ini. Saya berharap di masa yang akan datang syair seperti ini yang sudah cukup lama tenggelam akan bangkit dan kembali lagi..

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama