Manajemen Hati : Hati-hati Soal Hati

Hati-hati soal hati? Kira-kira kenapa nih kita harus hati-hati dengan hati? Karena takut salah menempatkan hati ke doi yang diam-diam singgah ke hati yang lain kah?. Duh, sepertinya sedih sekali hehe. Akan tetapi bukan itu saja, sungguh hati  adalah bagian penting bagi manusia sob. Check it out!

SOAL HATI

Manusia lahir sebagai makhluk hidup yang dibekali akal, jasad dan hati. Akal atau otak manusia merupakan bagian manusia yang berfungsi untuk mengatur gerak anggota tubuh. Lalu, jasad merupakan anggota tubuh manusia yang berfungsi untuk melakukan aktivitas, sedangkan hati merupakan jiwa seorang manusia.

Sebagian ilmuwan mengatakan bahwa hati merupakan otak kedua manusia. Secara biologis, hati yang merupakan salah satu organ pencernaan manusia memiliki peran untuk mengolah makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh manusia. Namun, apabila organ hati tidak berfungsi dengan baik, berbagai kondisi serius akan bermunculan. Hal ini serupa dengan perkataan orang nomor satu berpengaruh di dunia loh.

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ini ada sepotong daging. Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuh, dan bila ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, sepotong daging itu ialah hati.” (HR. Bukhori – Muslim)

Setiap tindakan manusia digerakan oleh otak sedangkan hati menjadi bagian penentu apa yang akan dilakukan. Contohnya, otak melalui saraf motorik menggerakan tangan untuk menulis dan hati menentukan apa yang akan ditulis (kebaikan atau keburukan). Oleh karena itu, apabila hati baik, tindakan manusia akan baik pula serta kebaikan lainya akan berdatangan menghampiri. Disinilah peran manajemen hati, agar hati kita dapat terjaga dalam kondisi baik.

Kemudian Imam Al-Ghazali mengungkapkan bahwa tubuh manusia diibaratkan sebagai sebuah kerajaan, maka hati tak lain adalah “rajanya”. Tentu saja, dia harus senantiasa ditata agar mampu menghadapi berbagai Fenomena kehidupan dengan sikap dan tindakan terbaik. Inilah mengapa kita perlu berhati-hati sama hati. Jika salah dalam menyikapi hati, hati akan mengarahkan kita pada keburukan.



MANAJEMEN HATI

Menurut Aa’ Gym, pada dasarnya inti konsep manajemen hati (Qalbu) adalah memahami diri dan mampu mengendalikan diri. Hati menunjukkan sebuah watak tentang siapa diri yang sebenarnya. Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa melalui qalbu inilah seorang mampu berprestasi semata demi Allah SWT jika hatinya bersih.

Dasar dalam manajemen hati adalah pengendalian diri. Misalnya, saat orang lain sukses memiliki mobil baru, mungkin sebagian hati kita akan iri dan dengki, tetapi sebisa mungkin kita mengelola perasaan itu menjadi rasa syukur. Bersyukur dengan nikmat yang sudah dimiliki.

Contoh lainnya seperti kisah Ibunda Siti Hajar yang ditinggal berdua saja bersama putranya Ismail AS di tengah gurun pasir selama 13 tahun lamanya. Bukankah wajar apabila Ibunda Siti hajar marah kepada Nabi Ibrahim AS?. Akan tetapi, beliau mengendalikan diri dan memilih untuk sabar karena ia percaya dengan perintah Allah kepada Nabi Ibrahim merupakan sebuah kebaikan. Hasilnya, kebaikan pun datang kepada mereka.

Saat kita ingin berproses menuju manusia yang damai maka perlu untuk selalu berlatih manajemen hati. Jangan sampai hati ternodai karena salah dalam mengelolanya, termasuk merasa lebih baik dari Fir'aun. Padahal sudah menjadi suratan takdir bahwa manusia ini tempatnya salah. Lantas dengan merasa lebih baik dari Fir'aun pun termasuk kategori sombong dan itu merupakan penyakit hati. Naudzubillah min dzalik.

Adapun langkah yang dapat ditempuh untuk mengelola hati:

 

1. Mengenal Diri Sendiri 

Mengenal diri sendiri merupakan langkah awal yang penting dalam mengelola hati. Siapa diri kita? Apa yang kita suka dan tidak suka? Apa yang kita mau?. Mengenal diri akan membantu kita menemukan arah tujuan yang diimpikan dan membentuk pondasi dasar hati yang kuat dalam proses manajemen hati.


2. Membersihkan Hati

Langkah kedua dalam manajemen hati adalah senantiasa berupaya menjaga hati yang bersih, seperti menjauhi prasangka buruk. Berburuk sangka hanya akan membuat pikiran kotor dan stres, lebih baik berpikir hal-hal baik dan fokus mengerjakan hal yang sudah menjadi tugas kita. Pastinya, membersihkan hati ini merupakan rangakaian kegiatan menjauhi nilai-nilai keburukan.


3. Mengarahkan Segala Potensi Menuju Kebaikan

Langkah selanjutnya, mengarahkan segala potensi yang kita punya untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat dan bernilai kebaikan. Kita dibekali oleh Tuhan nikmat tubuh yang sehat misalnya, maka daripada kita mengeluh tak kunjung mendapatkan rejeki, lebih baik kita manfaatkan potensi itu untuk terus berusaha mengerjakan apa yang bisa kita lakukan seraya bersyukur atas nikmat tubuh yang sehat dan percaya bahwa Tuhan tidak akan mengecewakan hamba-Nya.

 

4. Konsisten dan Istikamah

Soal mengelola hati ini juga sangat erat hubunganya dengan Tuhan. Oleh karena itu, salah satu cara sukses dalam berkonsisten mengelola hati, hendaknya kita senantiasa berdzikir kepada Tuhan. Melalui zikir segala harapan baik yang melangit akan disambut baik oleh Maha Pencipta. Kalau pun ada niat hendak melakukan keburukan, kita akan terjaga untuk tidak melakukanya sebab selalu ingat kepada-Nya.

***

Begitulah pentingnya mengelola hati dan cara mengimplementasikanya. Semoga kita terbiasa menjaga hati yang bersih untuk kehidupan bermanfaat dan lebih baik lagi.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama