Pandemi dan Suasana Lebaran Pada Tempo Dulu

Pandemi dan Suasana Lebaran Tempo Dulu
Sumber: Unsplash.com

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil hamd

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar. Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa wasubhaanallaahi bukrataw wa ashillaa

Laa ilaaha illallallahu walaa na'budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahuddiina walau karihal kaafiruun.

Laa ilaaha illallaahu wahdahu, shadaqa wa'dahu, wanashara 'abdahu, - wa a'azza jundahu, wahazamal ahzaaba wahdahu.

Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil hamd…


Lebaran

Hari lebaran adalah peristiwa yang sangat sakral dalam umat beragama. Dalam Islam misalnya, terdapat dua hari Raya besar yang setiap tahunnya disambut dengan suka cita oleh umat islam. Kedua Hari Raya itu adalah Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha atau sering juga disebut sebagai Hari Raya Kurban. Masing-masing hari raya tersebut memiliki makna tersendiri. Hari Raya Idul Adha misalnya, pada lebaran ini umat Islam berbondong-bondong melaksanakan Ibadah Kurban. Tradisi beragama (kurban) ini telah sangat melekat pada masyarakat Indonesia. Dari sudut desa-desa hingga ke kota besar, kaum muslim melaksanakan ritual kurban. Hal ini semata sebagai bentuk ibadah atas perjuangan Nabi Ibrahim A.S. dalam melaksanakan perintah langsung dari Allah SWT untuk menyembelih anaknya, Ismail A.S.. Kemudian atas keikhlasan dan keteguhan iman Ayah dan Anak ini, maka Allah menyelamatkan Ismail dengan mengganti sembelihan dengan seekor domba. Atas hal itu, ibadah kurban kemudian dilaksanakan kaum muslim sampai saat ini.


Selain kurban, hal yang sangat melekat pada Hari Raya Idul Adha adalah Ibadah Haji. Ibadah haji merupakan rukun islam yang diwajibkan bagi umat islam dengan kemampuan fisik dan finansial. Haji yang artinya mengunjungi, berziarah, atau berkunjung ke Baitullah (Rumah Allah) yang saat ini lebih dikenal sebagai Ka’bah. Bukan hanya di Indonesia, umat muslim di seluruh dunia akan pergi ke mekkah untuk melaksanakan ibadah ini. Peristiwa haji sendiri berawal juga dari Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah untuk membangun Ka’bah dengan dibantu sang anak yaitu Ismail. Selain itu, ini juga mengingatkan pada perjuangan seorang ibu yang ditinggalkan bersama bayinya di tengah gurun pasir oleh sang suami karena mendapat perintah dari Allah. Ibu dan anak ini kemudian kehausan dan hendak mencari air kesana kemari, namun tentu secara logika hal mustahil mendapatkan air ditengah padang pasir yang gersang pada saat itu. Lalu kemudian Ibu ini berlarian dari satu bukit kebukit yang berikutnya untuk mencari air karena bayi nya juga telah kehausan. Hampir saja putus asa, maka kemudian ditengah kebingungan nya, Ismail kecil atau bayi tersebut menggaruk-garukkan kakinya ke tanah. Seketika itu, air mancur mengalir deras muncul di bawah kakinya. Cerita ini sangat fenomenal, mata air itu hingga sekarang masih terus mengalir. Setiap hari, bulan bahkan tahun air itu selalu membasahi tenggorokan setiap jamaah haji yang pergi ke mekkah. Air ini lah yang sekarang disebut sebagai air zamzam.


Di indonesia, masyarakat sangat antusias ketika menyambut lebaran. Sejak dulu, bila saat lebaran tiba maka umat muslim yang dirantauan akan berbondong-bondong untuk pulang kerumahnya di kampung guna berhari raya bersama keluarga di sana. Mudik merupakan kebiasaan, tradisi nasional yang selalu memberi kesan, makna, juga cerita bagi mereka yang melakukannya. Momen haru lebaran tersebut akan menghilangkan rasa rindu yang telah lama dipendam, keinginan untuk berjumpa dengan orang-orang yang disayang guna berbagi kebahagiaan, cerita bahkan rezeki.


Begitu juga keluarga yang telah menunggu di desa, rasa cemas dan was-was menyelimuti saat yang ditunggu sedang dalam perjalanan mudik. Berbagai masakan khas rumah, khas daerah akan disajikan. Ibu-ibu yang dibantu anak perempuan akan memasak kue, bolu, dan beberapa jenis lauk saat lebaran. Ayah dibantu dengan anak lelakinya akan membereskan rumah, membersihkan perkarangan, membuat ketupat, serta menghias beberapa bagian dirumah. Semua sibuk, bahkan saat malam telah tiba ibu-ibu masih harus menyiapkan sajian untuk keluarga juga tamu pada esok hari raya. Rasa cemas, was-was, rindu, kemudian akan berganti tawa ria, suka cita, haru bahagia saat yang ditunggu-tunggu telah tiba dirumah. Tentu momen itu tidak akan cukup hanya digambarkan lewat kata-kata. 


Pandemi

Namun sangat disayangkan, pada lebaran tahun ini 2021 pandemi umat islam berhari raya tidak seperti biasanya. Sejak pandemi ditetapkan pada pertengahan tahun 2020 kemarin, situasi menjadi tidak terkendali. Orang-orang diharuskan untuk mengurangi aktivitasnya. Mulai dari sekolah, bekerja, bahkan beribadah pun lebih diprioritaskan dirumah. Selain karena ketakutan bila ketularan virus, beraktivitas dirumah juga ditetapkan oleh pemerintah. Ini tentu merupakan hal yang tidak diinginkan oleh semua orang. Momen yang harusnya bahagia karena bisa bertemu secara langsung, bercengkrama, dan berbagi cerita kini semua harus dilakukan secara online. 


Dengan dalih mencegah penularan, pemerintah melarang umat islam untuk melakukan tradisi mudik. Terlebih di hari Raya Idul Adha ini, bahkan ibadah haji tidak dilaksankan bagi jamaah dari Indonesia. Pandemi telah mengubah kebiasaan, mengubah keadaan bahkan mengurangi ruang gerak kebebasan. Ritual salat Hari Raya Idul Adha di beberapa tempat bahkan ditiadakan. Tentulah ini sangat menyayat hati, momen dimana seharusnya kita dapat berkumpul bersama, ibadah bersama, membagikan tunjangan hari raya, memakai berbagai hal baru, bersalam-salaman dan bermaaf-maafan menjadi tidak asyik lagi. Namun harus bagaimana lagi, demi kebaikan bersama dan cepat berlalunya pandemi ini tentu kita harus berkurban. Mulai dari kurban waktu, kerja, uang bahkan kurban perasaan pun bila perlu harus kita lakukan agar kondisi segera membaik dan normal seperti biasa lagi. 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama