MINDFULNESS: Memaknai Konsep Kesadaran Diri dari Perspektif Islam

Apa itu mindfulness?

Pernahkah Anda sadar akan sensasi angin yang menerpa wajah ketika berjalan? Atau sesering apa Anda menyadari bunyi jam yang berdetak di kamar Anda? Jika Anda jarang menyadari hal-hal tersebut mungkin Anda termasuk sebagai orang yang unmindful atau memiliki keadaan mindfulness yang cukup rendah. Lantas apa itu sebenarnya mindfulness? Pada dasarnya sulit untuk mendefinisikan istilah ini menjadi satu pengertian saja karena berdasarkan perkembangan studi beberapa dekade belakangan, istilah mindfulness dapat dimaknai ke banyak definisi jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. 

Berdasarkan pendapat beberapa ahli, definisi mindfulness dapat disimpulkan sebagai kesadaran seseorang terhadap keadaan saat ini (present moment). Dengan kata lain, seseorang dikatakan memiliki keadaan mindfulness yang baik adalah ketika ia sadar sepenuhnya terhadap apa yang ia lakukan di saat ini (present moment) tanpa memikirkan sesuatu baik itu terkait dengan masa lalu ataupun sesuatu di masa depan.

Apa saja manfaat Mindfulness?

Banyak ahli telah melakukan penelitian berkenaan dengan aspek mental yang satu ini termasuk juga manfaat apa saja yang bisa didapatkan ketika mempraktikkannya. Di bidang kesehatan, mindfulness terbukti dapat mengurangi tingkat stres, depresi,  serta rasa takut yang berlebihan pada seseorang. Sebuah penelitian MBSR (Mindfulness-based Stress Reduction) di Tiongkok juga menunjukkan bahwa pasien yang diberikan intervensi berupa meditasi mindfulness cenderung mengalami peningkatan pertumbuhan pasca trauma dan penurunan tingkat stres serta kecemasan pada pasien kanker. 

Tidak hanya di bidang kesehatan, mindfulness ternyata juga memiliki manfaat yang banyak bagi dunia pendidikan. Para ahli menemukan fakta bahwa siswa yang memiliki skala tinggi pada survey mindfulness cenderung memiliki nilai rata-rata pelajaran yang lebih tinggi pula dibandingkan dengan siswa yang skala mindfulnessnya lebih rendah. Di studi yang berbeda, sekitar 150 mahasiswa diminta untuk mengisi angket self-report mindfulness dan motivasi akademik, prestasi akademic untuk mencari tahu hubungan antara tiga variabel tersebut. Kemudian, hasil dari analisis data menunjukkan bahwa ternyata mindfulness, motivasi akademik, dan prestasi akademic memiliki keterkaitan yang signifikan satu sama lain. Dengan kata lain, mindfulness memiliki peranan yang penting dalam peningkatan motivasi belajar dan juga prestasi akademik siswa.

Mindfulness dari perspektif islam

Pada awal perkembangannya, para ahli mengkaji ilmu mindfulness dengan merujuk pada sumber literatur yang identik dengan ajaran suatu agama tertentu. Hal inilah yang menyakinkan bahwa konsep mental kognitif mindfulness pada dasarnya berasal dari ajaran suatu kepercayaan walau pada akhirnya konsep ini lebih banyak dibahas melalui perspektif ilmu pengetahuan sekuler. Lalu bagaimana islam memandang mindfulness?


Seorang psikolog muslim bernama Justin Parrot pernah mempublikasikan hasil studinya yang membahas tentang bagaimana konsep mindfulness dipandang dari perspektif Islam. Di artikelnya yang berjudul ‘How to be a Mindful Muslim: An Exercise in Islamic Meditation’ dijelaskan bahwa dalam ilmu Islam memang tidak ada istilah yang secara tepat dapat mendefinisikan konsep ini namun jika ditarik dari definisi umumnya maka konsep mindfulness memiliki banyak kesamaan dengan istilah muraqabah.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa mencapai muraqabah berarti memiliki kesadaran penuh akan hubungan seseorang dengan Allah. Dengan kata lain seseorang yang berada dalam keadaan muraqabah akan menemukan ketenangan di dalam diri karena ia sadar bahwa Allah SWT selalu ada dan memperhatikannya sepanjang waktu. Hal ini kemudian menyebabkan berkembangnya kemampuan seseorang untuk fokus dan lebih sadar terhadap pikiran, perasaan, tindakan, serta keadaan batinnya.

Perbedaan mindfulness di bidang ilmu sekuler dan islam

Perbedaan perspektif dalam memahami mindfulness di bidang ilmu sekuler dan ilmu Islam tentunya juga membawa perbedaan pada jenis manfaat yang didapatkan. Pada dasarnya, mindfulness pada kajian ilmu sekuler hanya memberikan manfaat berupa ketenangan kondisi batin seseorang yang lebih lanjut dapat meningkatkan performa aspek mental lainnya seperti kemampuan memusatkan perhatian, mengingat, mengontrol emosi, dll. Di sisi lain, muraqabah, yang memiliki pemaknaan yang hampir sama dengan mindfulness, ternyata memberikan manfaat dua kali lipat dibandingkan dengan mindfulness pada umumnya.

Pertama, dengan mencapai muraqabah, seseorang akan mendapatkan ketenangan dan kepuasan di dunia yang mana kebaikan ini juga merupakan manfaat dari mindfulness. Yang menjadi pembeda adalah manfaat yang kedua yaitu seseorang yang mencapai murakabah juga akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan yang abadi di di fase setelah dunia yaitu Jannah-Nya.

Mindfulness, Muraqabah, Wabah, dan Ramadhan


Dengan segala manfaat yang didapatkan dari mindfulness atau muraqabah tentunya berusaha untuk mencapainya adalah sebuah keharusan. Di tengah kondisi dunia seperti sekarang, wabah mengharuskan manusia hidup dalam segala bentuk keterbatasan. Hal ini sedikit-banyak mempengaruhi kondisi mental banyak orang. Stres, depresi, kebingungan, rendahnya motivasi, serta rasa malas adalah beberapa akibat buruk yang dirasakan. Dengan memperhatikan mindfulness seseorang dapat terhindar dari kondisi-kondisi tersebut. Terlebih lagi dengan datangnya bulan Ramadan, muraqabah menjadi sangat penting mengingat ibadah dan hubungan dengan Allah harus selalu ditingkatkan untuk meraih pahala yang banyak nya berkali-kali lipat di bulan mulia ini.

Praktik untuk mencapai mindfulness dan muraqabah

Dalam ilmu pengetahuan sekuler, agar seseorang mencapai keadaan sadar (mindful) maka perlu dilakukan latihan seperti meditasi secara berkala. Namun dalam kajian islami, praktik meditasi seperti pada mindfulness sekuler tentulah bukan merupakan suatu anjuran. Hal ini berkaitan dengan pandangan para ulama mengenai hukum meditasi sekuler yang dianggap bid’ah dan meniru cara beribadah suatu ajaran tertentu.

Pada dasarnya, kecenderungan untuk menghindari praktik meditasi dikarenakan pemaknaan kata meditasi itu sendiri. Terlebih lagi, ada banyak bentuk dari praktik ini yang sebagian besar memiliki hubungan yang erat dengan ajaran kepercayaan tertentu dan bertolak belakang dengan ajaran islam. Namun, secara umum, istilah meditasi seharusnya dapat didefinisikan sebagai bentuk kegiatan refleksi diri, perenungan religius yang saleh atau introspeksi spiritual. Dalam praktik yang islami, kita dapat melihat bagaimana Rasulullah sering merenung dan mengasingkan diri keramaian tatkala mekah masih dipenuhi segala bentuk kegiatan jahiliyah. Begitu pula dengan salafus shalih yang mempraktikkan beberapa jenis ‘meditasi’ untuk meningkatkan kualitas ibadah, doa, dan dzikir nya kepada Allah. Ibnu Qayyim contohnya, beliau menjelaskan setidaknya ada 7 cara untuk meraih muraqabah yaitu tafakkur, tadhakkur, nathr, I’tibar, tadabur, dan istibsar. Imam Al-Ghazali merekomendasikan untuk terlibat dalam empat praktik ibadah harian yang berbeda untuk mecapai muraqabah yaitu doa, dzikir, membaca al-quran, dan tafakkur. 




Lebih lanjut, agar dapat mencapai muraqabah, seseorang perlu memahami 4 aspek utama dalam praktiknya. Pertama, penting untuk mengetahui bahwa Allah adalah dzat yang maha kuasa. Lalu penting pula bahwa Iblis adalah musuh yang nyata bagi manusia. Seseorang juga harus menyadari kapasitas diri sendiri dalam menahan godaan dari iblis dan setan. Yang terakhir, seorang muslim harus memiliki pengetahuan mengenai kebaikan dan ibadah apa saja yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah. (bersambung)

Sumber gambar: https://yaqeeninstitute.org/justin-parrott/how-to-be-a-mindful-muslim-infographic/
Penulis: Ayu Ulivia

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama