PANDEMI DALAM SEJARAH: MENAPAKI HIKMAH DARI MANUSKRIP MEDIS PANDEMIC ISLAM


Dunia saat ini sedang dihadapkan pada wabah penyakit yang disebabkan oleh virus Corona. Sejarah panjang virus ini pada manusia bermula sejak tahun 1965, saat itu D.A. Tyrrell dan M.L. Bynoe dari Rumah Sakit Harvard Inggris mengisolasi virus dari saluran pernapasan seorang anak laki-laki. Anak tersebut memiliki ciri dan tanda seperti terjangkit flu biasa, namun sejak ditemukan gejala pertama tersebut banyak ditemukan pula orang yang memiliki gejala yang sama. Hingga saat ini, Virus Corona telah menyebabkan berbagai penyakit diantaranya Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) 2002-2003 dan wabah Middle East Respiratory Syndrome (MERS) di Korea Selatan pada tahun 2015. Sedangkan, virus yang saat ini menyebabkan dunia dilanda pandemic adalah Virus Corona jenis baru yang kemudian dikenal dengan nama SARS-CoV-2.

Virus SARS-CoV-2 pertama kali ditemukan di Kota Wuhan Cina pada akhir tahun 2019 dan menyebakan penyakit yang disebut Coronavirus Diseases 2019 (COVID19). Saat ini menurut laporan World Health Organization (WHO) tercatat sebanyak 6.931.000 orang terkonfirmasi postif Covid-19 dengan jumlah kematian 400.857 orang. Indonesia juga turut menyumbang angka dalam kasus yang ditemukan diseluruh dunia yaitu sebanyak 32.033 orang terjangkit dengan jumlah kematian 1.883 orang (data 8 Juni 2020).

Transmisi virus antar manusia yang begitu pesat dengan jumlah korban yang terus bertambah dari seluruh dunia membuat WHO menetapkan status Pandemic Global pada 11 Maret 2020. Berbagai kebijakan diterapkan guna memutus rantai penyebaran virus ini, diantaranya dengan lockdown atau di Indonesia dikenal dengan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB). Masyarakat dituntut untuk melakukan aktivitas dari rumah, mulai dari bekerja, bersekolah, beribadah dan berbagai kegiatan lainnya.

Jauh sebelum saat ini, berbagai cara yang digunakan untuk menghentikan pandemik dan wabah penyakit menular atau Tha’un dapat ditemukan di berbagai manuskrip yang ditulis oleh para ahli dan dokter Islam. Yang pertama, buku yang berjudul Ar-Risālah al-Mughniyah fī as-Sukūt wa Luzūm al-Buyūt ditulis oleh Abu Ali al-Hasan bin Ahmad bin ‘Abd Allah al-Baghdady (w. 471 H/1078 M), atau lebih dikenal “Ibn al-Banna’”. Pada buku ini dijelaskan tentang keutamaan berdiam dirumah yang berhubungan dengan keselamatan meskipun tidak secara spesifik dijelaskan dalam kondisi pandemic. Dalam buku ini Ibn Al Banna mengutip sebuah hadist yang berbunyi:
“Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah saw, “apa itu sebab keselamatan?” Nabi saw bersabda, “(Keselamatan itu) yaitu hendaklah engkau menahan lisanmu, sibukkanlah rumahmu dengan ibadah kepada Allah, dan tangisilah dosa-dosamu” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Selanjutnya adalah karya Muhammad bin Ahmad at-Tamimy al-Maqdisy (abad ke-4 H/10 M) dengan judul Maddah al-Baqa’ fi Ishlah Fasad al-Hawa’ wa at-Taharruz Min Dharar al-Auba. Dalam buku ini dibahas mengenai lingkungan dan udara yang tercemar dan akibatnya pada penularan penyakit. Konsep penting yang dijelaskan dalam buku ini adalah tentang percampuran, bahwa penyakit menular karena adanya ketidaseimbangan percampuran. Hal ini jika ditarik dengan kebijakan saat ini maka konsep percampuran tersebut berkenaan dengan adanya pembatasan jarak fisik antar individu.

Muqni’ah as-Sā’il ‘an al-Maradh al-Hā’il adalah naskah yang ditulis oleh Muhammad bin Abdillah bin al-Khathib (w. 776 H/1374 M). Dalam naskah ini dijelaskan faktor-faktor pemicu dan cara penanganan wabah yang menipa Andalusia pada 1348 M. Salah satu penanganan yang dijelaskan pada naskah ini yaitu dengan menjauhi tempat wabah (penyakit), demikian lagi menjauhi orang yang telah wafat karena wabah dan orang yang masih sakit, baik pakaiannya, kenderaannya, tempat tinggalnya, atau tetangganya yang terjangkit, namun jika terpaksa maka harus menahan nafas. Maka hal ini jika sesuai dengan protokol kesehatan yang saat ini diterapkan.

Buku selanjutnya, Risālah an-Nabā ‘an al-Wabā Karya Zain ad-Din bin al-Wardy (w. 749 H/1348 M) membahas tentang Tha’un yang saat itu tengah terjadi khusunya di negeri ia tinggal yaitu Alepo. Ia menggambarkan kondisi tatkala wabah itu datang sangat menakutkan manusia. Selain mengakibatkan kematian, juga memunculkan ketakutan dan kengerian. Tak lupa, Ibn al-Wardy menggambarkan hikmah wabah ini, yaitu kembali kepada Allah dengan bertaubat, membaikkan amal ibadah, menahan hasrat, beramal salih.

Mā Rawāhu al-Wā'ūn fī Akhbār ath-Thā'ūn karya al-Imam Jalal ad-Din as-Suyuthy (w. 911 H/1505 M) pada buku ini tercatat historiografi perkembangan penyakit Tha’un dari masa ke masa. Buku ini juga menjelaskan tentang manakala seseorang berada di suatu negeri (desa/kota) maka tidak diperbolehkan keluar, demikian sebaliknya. Selanjutnya dibahas anjuran untuk berikhtiar agar menghindari wabah dengan berhati-hati serta melakukan pengobatan apabila telah terjangkit. Larangan keluar dari suatu negeri yang terjadi wabah Tha’un dan sebaliknya termasuk pelajaran yang didapat dari hal tersebut juga dijelaskan dalam naskah Tuhfah ar-Rāghibīn fī Bayān Amr ath- Thawāghīn Karya Zakariyah bin Muhammad bin Zakariya al-Anshary (w. 926 H/1519 M) dan masih banyak lagi. Banyaknya sumber yang menekankan larangan itu menunjukan betapa pentingnya langkah ini untuk menghentikan suatu wabah.

Selain membahas tentang berbagai macam cara penangan dan sejarah dalam menghadapi suatu wabah, manuskrip dalam kepustakaan islam tidak luput membahas tentang keharusan memiliki kesabaran ditengan wabah yang melanda dan anjuran untuk segera bertaubat atas segenap dosa kita. Selanjutnya, sikap yang harus ditanamkan yaitu meyakini bahwa sejatinya pandemi yang sedang terjadi ini adalah rahmat bagi orang-orang yang beriman, bersabar, dan rida sebagaimana yang tertulis di dalam buku Badzl al-Mā’un fī Fadhl ath-Thā’ūn oleh Ibn Hajar.

Dengan berbagai penjabaran diatas, ada banyak ilmu pengetahuan baru yang dapat kita peroleh yang bermuara pada inti yang mengharuskan kita bersabar dan menerapkan serta mematuhi berbgai kebijakan yang diatur oleh pemerintah ditengan Pandemic Covid-19 ini. Ditambah kita telah mengetahui bahwa kebijakan tersebut adalah sesuatu yang telah menjadi cara juga diterapkan para pendahulu kita dalam menangani pandemic dari sudut pandang Islam.

*Note: Manuskrip pada tulisan ini tidak diartikan oleh penulis secara langsung melainkan melalui sebuah buku ringkasan tentang hal tersebut yang terdapat pada daftar referensi

Daftar Referensi:
Butar-Butar, A. J. R. (2020). Kepustakaan di Dunia Islam. 1–110.
Murti, B. (Institute of H. E. and P. S. (2007). Sejarah epidemiologi. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UNS, 1–35.
Myint, S. H. (1995). Human Coronavirus Infections. The Coronaviridae, (Table I), 389–401. https://doi.org/10.1007/978-1-4899-1531-3_18
https://bebas.kompas.id/baca/opini/2020/04/08/sejarah-panjang-virus-korona/ diakses pada 09 Juni 2020
https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus diakses pada 09 Juni 2020


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama