Kisah Inspiratif : Ada Harapan di Balik Ruang Isolasi



Palembang- 27 April 2020, Update terakhir Covid-19 di Indonesia menunjukkan bahwa Pasien dalam Pemantauan atau pasien positif corona berjumlah 9096 orang (bertambah 214 orang dari hari sebelumnya), 1.151 di antaranya dinyatakan sembuh dan 762 orang meninggal.
                
Apa yang kamu bayangkan ketika melihat data ini? Semakin panik sebab data pasien positif terus bertambah? Apakah kamu fokus pada data jumlah pasien meninggal terlebih dahulu? Atau pasien yang sembuh? Angka ini belum menggambarkan keadaan sesungguhnya sebab di lapangan masih belum banyak dilakukan tes kesehatan, apalagi di daerah yang sulit dijangkau.

Seperti tabiat manusia pada umumnya yang apabila melihat setitik noda pada selembar kertas putih, mereka akan fokus pada noda itu. Begitupun data ini, meski tidak seluruh orang demikian, tetapi rata-rata akan lebih terfokus pada jumlah pasien yang meninggal. Bahkan hal ini terkadang menimbulkan kecemasan yang berlebih. Banyak stigma negatif yang mulai bermunculan tentang Pasien Covid-19 hingga tenaga medis yang menangani. Mirisnya, marak sekali pengucilan terhadap di saat mereka sedang berjuang. Kita memang boleh waspada, tapi ketakutan berlebihan juga tidak baik. Bukankah lebih baik jika perjuangan mereka kita iringi dengan support. Ketahuilah bahwa satu do’a dan semangat dari kita adalah hal yang begitu berharga.

Sebenarnya, ada banyak hal menarik di balik ruang isolasi yang jarang diceritakan, tentang sebuah “harapan” di balik kurungan. Tidak dapat dipungkiri bahwa covid-19 memang penyakit yang berbahaya dan hingga kini belum ditemukan obatnya, tapi bukankah Allah telah mengatakan: “fa innama’al usri yusro” yang berarti bersama kesulitan ada kemudahan. Maka, banyak kemudian yang sembuh tersebab masih ada harapan dan tentu saja masih diberikan “kesempatan” oleh Allah. Dalam Islam, kita tentu percaya bahwa semua yang terjadi karena kehendak-Nya.

Pernahkah kalian mendengar kisah Direktur di salah satu perusahaan penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi Indonesia yakni AM yang sembuh dari covid setelah 22 hari diisolasi? Beliau mengatakan “Ada empat hal yang menjadi pelajaran berharga ketika berada di ruang isolasi, yaitu rely on Allah alone, be positive engine and optimistic, manage the expectation, and prevention is better then cure”. Intinya, kesembuhan beliau tak lepas dari anugrah yang diberikan Allah SWT sebab dalam ruang isolasi kita akan menyadari bahwa hanya Allah satu-satunya tempat bergantung. Kemudian jadilah agen yang menyebarkan stigma positif dan optimisme kepada pasien di saat berita hoax menyebarluas. Mengelola eskpektasi juga penting sebab kita tidak bisa mengharapkan pelayanan lebih di tengah keterbatasan tenaga dan alat medis. Terakhir, pencegahan selalu lebih baik, so tetap stay at home ya.

Ada lagi kisah dari pasien berinisial RP dari salah satu rumah sakit di Pulau Jawa yang mengatakan “saya 5 kali di tes swab, dan semua hasilnya positif, saya juga merupakan pasien pertama dan terlama di rumah sakit ini, 38 hari. Hingga dokter kemudian, memberikan saya pelayanan khusus untuk berkonsultasi kepada psikolog secara online, mungkin dia melakukannya sebab tahu saya hampir putus harapan sebab terlalu lama berada di ruang isolasi, di mana kita benar-benar sendiri, Kalau biasanya sakit ada orang yang berkunjung, ini tidak ada sama sekali, kecuali perawat dan dokter. Hingga akhirnya saya di tes swab yang ke-6, dan alhamdulillah hasilnya negatif. Saat itu yang bahagia bukan hanya saya, tapi perawat yang ada di belakang juga sangat bahagia, sampai mereka mengatakan yes! Saking senangnya gitu, di saat itulah saya menyadari bahwa kesembuhan pasien merupakan kerja kolektif. Di mana semua orang memiliki perannya, dan support dari semua pihak benar-benar sangat dibutuhkan.”

Sebenarnya ada banyak kisah pasien covid-19 yang lain di luar sana yang tak terbidik kamera, tak terkisah dalam cerita, tapi menyimpan pelajaran berharga. Beberapa hikmah yang diambil dari kisah kesembuhan beberapa pasien ini adalah: “please stop over negative thinking” bahkan kalau sampai mengucilkan pasien dan tenaga medis itu adalah perbuatan yang tak dilandasi hati nurani. Tetap jaga jarak secara fisik, namun jangan jaga jarak hati, sebab support dan semangat dari kita semua merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam perjuangan mereka. Hal yang mungkin bisa kita lakukan adalah tetap di rumah aja ketika tidak ada hal yang sangat penting untuk meminimalisir penularan dan sebarkan dukungan sebanyak-banyaknya untuk pasien covid-19 dan tenaga medis serta seluruh pihak yang berjuang. Hindari menyebarkan berita hoax dan jaga kesehatan, semoga Allah selalu melindungi kita. Terakhir, ada sedikit ungkapan cinta untuk kalian semua.

Teruntuk kamu yang saat ini diisolasi, jangan pernah berpatah hati, sebab Allah selalu di sisi
Teruntuk  para tenaga medis yang pantang menyerah menyembuhkan, jerih payah kalian lebih bernilai dari sebuah berlian, lebih bercahaya dari intan, kalian adalah pahlawan
Teruntuk kita yang masih diberi kesehatan, tetap selalu tebarkan semangat dan senyuman, sebab stigma negatif sama sekali tak dibutuhkan,
Tenanglah, kita masih memiliki harapan
Dan jika Allah telah menakdirkan, semua ini akan menjadi satu kisah penuh hikmah di masa depan

Sumber:
BNPB – Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID 19 diunduh dari https://www/covid19.go.id
Cerita Pandemi: Sembuh dari Corona Butuh Perjuangan Bersama diunduh dari https://youtu.be/z5o5_3uZ-uU
Talkshow Kisah Inspiratif – Para Pejuang Covid 19 diunduh dari https://youtu.be/KuU4dptXglg

Penulis: Maya Sari Syama Yanti

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama