#dirumahaja, Yakin di Rumah Nggak Ngapa-ngapain?

#dirumahaja
sumber gambar: pikiran-rakyat.com

Pertanggal 2 Mei 2020, jumlah pasien positif terkena Covid-19 sudah mencapai 10.843 orang sedangkan pasien meninggal dunia sudah menyentuh angka 831 orang. Data ini diperoleh dari official account resmi Covid-19 via Whatsapp. Hanya dalam kurun waktu yang singkat, pandemi ini mampu menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Tidak heran jika beberapa daerah sudah banyak menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Semua orang bergidik ngeri terhadapnya,  jika tidak, patut dipertanyakan akal sehatnya.

Apakah kamu sedang #dirumahaja? Kalau iya, berarti kita sama. 

Hikmah apa yang bisa kita ambil  dari hadirnya Pandemi Corona di bumi pertiwi ini?

Dulu, sebelum Covid-19 merebak, sadar gak, saat kita sekolah ataupun kuliah secara tatap muka di kelas betapa seringnya kita mengeluh dan menggerutu. Entah karena kuliah masuk pagi atau sering kali kita merasa mageran melewati panas untuk masuk kuliah yang jadwalnya di siang hari. Sekarang, kita tidak perlu lagi untuk pergi pagi keberatan atau pergi siang kepanasan. Tidak, tidak perlu. Cukup #dirumahaja, sambil rebah-rebah bukan rebahan yang tidak ada dalam KBBI, hehe. Padahal nih, di luar sana banyak yang belum merasakan nikmatnya duduk di bangku sekolah, apalagi bangku perkuliahan. Bersyukurlah, kita masih diberi kenikmatan.

Dulu, mungkin kita kerja di kantor yang jauh dari rumah. Kerja di kantor yang sumpek lagi menyesakkan. Atau, kerja di kantor di bawah tekanan bos yang menggeramkan. Sekarang, tidak perlu ke kantormu kawan. Cukup, Work From Home alias WFH. Dengan itu, kita bisa minum kopi, nyemil ubi rebus sambil kerja di depan layar komputer, misalnya. Atau kita tidak perlu lagi meeting tatap muka dengan si bos, sekarang bisa bersapa dengan online meeting. Tidak terlalu menjengahkan lagi bukan muka bos kita? Padahal ingatlah kawan, di luar sana banyak yang belum menemukan pekerjaan, masih digantungkan divisi HRD perusahaan, masih mengantri dengan map di dada seraya berbisik di dalam hati “semoga kali ini diterima”, bahkan ada yang masih memegang gitar silih berganti hadir di berbagai warung makan mengharapkan duit recehan, atau bahkan ada yang tak takut corona hingga berjualan koran di bawah lampu merah. Bersyukurlah, kita masih diberi kenikmatan.

Dulu, sering kali kita menyisakan makanan, atau terbuang percuma akibat basi. Sering pula kita menghambur-hamburkan uang dengan membeli barang yang tidak dibutuhkan, hanya pengen aja. Sekarang? bisa dikatakan inflasi mulai meningkat dengan uang yang mungkin banyak tapi barang-barang mulai langka. Boleh jadi ini sebagai bentuk pelajaran yang Allah sematkan agar kita berpuas (menahan diri) dari keinginan untuk memuaskan ego. Akan lebih baik jika kita mulai menyisihkan rejeki kita dengan berdonasi. Lihatlah di luar sana, ada banyak yang membutuhkan uluran tangan kita. Masih mau tetap duduk goyang foya-foya sambil checkout sana sini di situs online shop ?

Dulu, sewaktu corona belum hadir, pintu-pintu masjid masih terbuka lebar. Ketika suara adzan memanggil, sering kali kita acuh tak acuh. Berbagai alasan kita utarakan untuk menunda menunaikan kewajiban,
“Ah bentar masih fokus kerja, bentar masih satu halaman lagi novelku, bentar baru mau klimaks nih film, bentar rampungkan sedikit lagi agenda rapat kita, dan bentar lagi mager….bentar” Astaghfirullah. Bagaimana dengan kitab sucimu, Al-Qur’an? Ketika sholat ditunda, membaca kitab ikut ditunda. Perihal ajakan untuk sekadar duduk di majlis ilmu juga turut kita tolak tat kala teman mengajak. Sekarang, kita berada #dirumahaja dengan waktu luang yang lebih banyak. Ayo, kita bisa rebahan sepanjang waktu, mana mungkin untuk sholat yang hanya hitungan menit tidak bisa kita lakukan? Bukalah Al-Qur’anmu, belum bisa satu juz perhari, targetkan setengah juz, jika belum bisa targetkan satu hari satu lembar. Sekarang sudah banyak yang menggelar tikar untuk hadir di majlis ilmu via online, bisa kita ikuti sembari mengisi waktu luang.

Dan satu hal yang sering luput dari kita, bersyukurlah pada nikmat sehat sebelum sakit menjenguk diri.

Apa tips yang dipetik dari hadirnya kejadian corona ini? Menerapkan Puasa Ego dan Memanfaatkan Waktu Luang.

Sekarang memang kita sedang menjalani ibadah puasa, tidak hanya sekadar menahan diri untuk makan dan minum, tetapi juga berpuasa dari ego-ego yang hanya memuaskan diri sendiri. Mulailah menata ego, ada banyak yang perlu dirapikan lagi.

Memanfaatkan waktu luang. Yups! Hadirnya corona mengajarkan kita untuk menghargai betapa pentingnya waktu. Waktu berkumpul dengan keluarga, teman, hingga guru kita. Belajar tentang bagaimana untuk tidak membuang-buang waktu dengan percuma. Kita bisa memanfaatkannya dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, menekuni hobi, mengikuti majlis ilmu, serta memberikan kontribusi sosial walau secara online.

Bukan hanya sekadar perkara mengisi waktu luang saat #dirumahaja, tetapi tentang bagaimana kita bergerak MAU melakukannya. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan agar kita bisa bermanfaat. Pertanyaannya, MAU APA TIDAK ? *Upss maaf capslock.

Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu,
Yaitu nikmat KESEHATAN DAN WAKTU LUANG (HR. Bukhari)
Ditulis oleh: Reskia Ekasari

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama