Novel Nyala Semesta: Lebih Dekat dengan Palestina

novel nyala semesta


Judul: Nyala Semesta

Penulis: Farah Qoonita

Penerbit: KANAN Publishing

Tebal: 287 halaman

Genre: Novel Action-Thriller

Terbit: 2020


Novel tak pernah lekat dengan satuan usia, siapa saja boleh untuk membacanya. Jadi, sah-sah saja saat novel diidentikkan dengan romansa cinta, remaja, dan SMA, di tahun 90’an mungkin begitu adanya, pun disetiap generasi novel punya posisi istimewanya tersendiri. Novel bisa jadi erat dengan bacaan anak-anak wisma saat mengantre untuk mandi atau bisa jadi novel juga dijadikan bacaan di sela laci meja dan teman naik angkutan kota saat masih SMA. Novel memang seringkali lebih menarik dari deretan angka dan rumus matematika.


Tapi Farah Qoonita, mengambil posisi yang berbeda dari novel populer kebanyakan. Sempurna mengambil latar belakang Palestina, novel ini menjadi karya yang istimewa untuk novel pertamanya. Adegan demi adegan dalam buku ini seperti alur cerita dalam film-film laga garapan marvel atau sejenisnya. Manuver dalam berkendara, saling serang dengan senjata, teknologi tingkat tinggi dan pasti canggih, salah satu badan intelijen terkuat di dunia, hingga kecerdasan akademisi yang lainnya dan itulah gambaran kerja keras zionis demi mendapatkan tanah Palestina seutuhnya. Tak pernah main-main, sangat totalitas tanpa kenal batas. Bahkan dalam satu adegan diceritakan mereka menyiapkan puluhan tahun bahkan ratusan tahun untuk melancarkan aksi biadab mereka  dan  bisa jadi itu nyata adanya.


Semua kerja keras yang dilakukan zionis itu rasanya tidak mudah dikalahkan dengan strategi biasa. Tapi, inilah bukti istimewanya Palestina, bukti nyata Allah menjadikan mereka istimewa. Bagaimana tidak, Palestina ibarat gambaran nyata cerita Nabi saat beliau masih ada. Ya, ada yang lebih istimewa dari deretan teknologi dan kecerdasan zionis Israel saat ini. Saat zionis dengan arogannya meluncurkan bom atau rudal diatas bumi para nabi. Hingga rumah, sekolah, bahkan rumah sakit luluh lantah dibuatnya. Palestina ciptakan sendiri kerajaan mereka dibawah tanah Gaza.


Pergerakannya tak main-main, latihan fisik juga rutin dijalani, belajar di tengah himpitan gelap dan minimnya biaya adalah hal biasa. Semua dilakukan, sekalipun nyawa taruhannya. Dan hasilnya? Luar biasa tak terkira, beberapa tokoh memiliki kecerdasan yang amat bermanfaat untuk sesamanya. Jumlah penghafal Al-Qur’an? Tak perlu ditanya. Setiap detik adalah bentuk ibadah mereka. Lantunan ayat suci adalah detak nadi mereka menjalani hari. Malam menjelang pagi mereka senantiasa terjaga. Mereka menjadi semakin istimewa karena tali mereka pada Allah yang semakin kuat karena keyakinan pada Allah lah senantiasa terbit harapan dan keyakinan akan adanya pertolongan Allah untuk mereka.


Kita akan membayangkan adegan anak-anak menangis dan bersedih ditinggal teman sebayanya, yang terbunuh oleh serangan rudal zionis Israel. Bukan hanya sedih karena ditinggal pergi untuk selama-lamanya, tapi juga bersedih sebab kawannya lebih dulu menemui kesyahidannya. Kita juga akan membayangkan adegan putra petinggi Hamas yang dilanda kegalauan luar biasa. Memilih agama atau keselamatan diri dan keluarga di dunia dan betapa lingkungan punya andil pada tabiat kita. Betapa watak dan sifat bukan sekedar warisan genetika semata. Mungkin itulah kenapa do’a diteguhkan hati dan iman menjadi penting adanya.


Pergolakan dalam tubuh keluarga, hingga perjuangan seorang ayah dan ibu untuk mempunyai putra. Padahal, sang ayah terjebak di balik jeruji penjara. Belum lagi penyiksaan tak manusiawi kepada para pejuang Palestina. Tentang tubuh yang tak lagi menghirup oksigen dengan leluasa karena jangankan leluasa, untuk bergerak saja tidak bisa. Jeritan kakek tua yang dicambuk tanpa kenal ampun. Perempuan tak berdosa yang sengaja diperkosa. Hingga genangan darah menggenangi lantai. Itu adalah beberapa kisah pilu yang mewarnai jalan cerita didalamnya, dan masih banyak lagi kisah lainnya.


Ini memang kisah dalam Novel Nyala Semesta, tokohnya dibuat fiktif dan sedemikan rupa  tapi, beberapa fakta adalah nyata adanya, sumber tulisannya jelas darimana asalnya. Jadi, masihkah kita menganggap ini hal yang biasa? Saat 6,5 juta warga Palestina jadi pengungsi di tanah airnya sendiri. Saat ratusan ayah dipenjara dan harus menginggalkan anak serta istri mereka. Bahkan di tengah gempuran dan badai serangan. Dan rasanya... kita belum melakukan apa-apa. Pertanyaannya satu, apakah benar kita sudah mencintai saudara-saudara kita di Palestina? Saat lantang kita katakan sakitnya mereka sakitnya kita.


Mungkin benarlah kata Umar bin Khattab mengenai cinta, bahwa cinta itu adalah kata kerja. Mencintai Palestina itu membutuhkan sebuah usaha. Usaha untuk mengenalnya, usaha untuk mempelajari sejarahnya, usaha untuk mendo’akannya, dan usaha untuk membantunya sekecil apapun yang kita bisa, karena tak ada kebaikan atau perbuatan yang sederhana saat melibatkan cinta didalamnya.


Kontribusi: Amelia Kurniastuti

Post a Comment

Gunakan kata yang baik dan sopan dalam berkomentar ya

Lebih baru Lebih lama