Jenis -jenis Motivasi Akademik: Kenali Motivasi Belajarmu!


Belajar bukanlah kegiatan yang dipilih kebanyakan orang untuk menghabiskan waktu luang karena tidak lebih menyenangkan apabila dibandingkan dengan beberapa kegiatan lain. Namun, ada pula tipe-tipe individu yang merasakan bahwa belajar sebagai aktivitas wajib yang tidak bisa hidup tanpanya. Ada yang bersemangat belajar karena dorongan eksternal seperti reward, ada pula yang belajar demi kepuasan dan aktualisasi diri semata. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia memiliki perbedaan motivasi atau dorongan dalam melakukan suatu hal, terutama daat melakukan aktivitas belajar. Pada tulisan kali ini, kita akan membahas apa saja jenis-jenis motivasi akademik yang memotivasi manusia untuk belajar dilihat dari sudut pandang ilmu psikologi.


Motivasi Secara Umum (Intrinsik dan Ekstrinsik)

Motivasi dalam artian luar merupakan dorongan untuk melakukan sesuatu. Ketika seorang individiu termotivasi berarti orang tersebut bersemangat untuk mencapai tujuan. Di sisi lain, apabila seorang individu tidak termotivasi maka orang tersebut berarti sedang tidak terinspirasi untuk melakukan suatu tindakan. Menurut Self-Determination Theory (teori yang banyak dirujuk ilmuwan dalam kaitan dengan motivasi), terdapat dua jenis motivasi yang mendorong manusia yaitu:

  • Motivasi Intrinsik: dorongan yang mencerminkan kecenderungan bawaan manusia untuk mencari hal-hal baru dan tantangan, untuk menjelajahi dunia, dan untuk melatih kapasitas diri. Ketika kita termotivasi secara intrinsik, kita melakukan sesuatu hanya karena kesenangan atau minat pribadi.
  • Motivasi Ekstrinsik: dorongan untuk melakukan suatu aktivitas demi sesuatu yang lain (faktor eksternal) atau untuk mencapai beberapa hasil lain (misalnya dorongan bekerja untuk mendapatkan uang).

Motivasi Akademik

Terkhusus pada bidang akademik, para ahli merumuskan beberapa jenis motivasi yang mendorong manusia untuk belajar. Jenis-jenis motivais ini pada dasarnya merupakan turunan dari Self-Determination Theory yang menyatakan bahwa manusia memiliki dua jenis dorongan (intrinsik dan ekstrinsik). Hanya saja, pada konsep motivasi akademik, terdapat satu jenis motivasi lain yang disebut amotivasi (amotivation). Pembahasan lebih lanjut akan dijabarkan di bawah ini:



Extrinsic Motivation

  • IM to know: seseorang melakukan sesuatu untuk kesenangan dan kepuasan ketika mencoba untuk mengeksplorasi sesuatu yang baru.
  • IM toward accomplishment: seseorang merasakan suatu kegembiraan atau kepuasan ketika mencoba mencapai suatu hal yang baru. Dengan kata lain, jenis motivasi ini dapat dijelaskan sebagai kondisi ketika seorang individu lebih menikmati proses daripada hanya berfokus pada hasil proses.
  • IM to experience: seseorang mau terlibat dalam suatu kegiatan dengan tujuan mengalami sensasi terstimulasi belajar (contoh: bersemangat ketika mengikuti diskusi yang dapat menstimulasi diri untuk belajar).


Extrinsic Motivation

  • EM External Regulation: seorang individu melakukan aktivitas yang dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti hadiah atau paksaan.
  • EM Introjected Regulation: seseorang terdorong untuk melakukan suatu tindakan karena menghindari rasa bersalah atau untuk memperoleh harga diri.
  • EM Identified Regulation: pada tahap ini, alasan untuk belajar sudah melalui proses internalisasi dan identifikasi (hampir serupa dengan motivasi intrinsik). Hal ini berlangsung sampai orang tersebut merasa bahwa kegiatan tersebut harus dilakukan karena itu penting bagi dirinya sendiri.

Amotivation: situasi ketika seorang individu tidak memiliki niat untuk melakukan suatu aktivitas. Ketidakmampuan dan harapan yang tidak terkendali akan dialami oleh orang yang tidak termotivasi. Selain itu, orang tersebut lebih cenderung merasa dipaksa untuk melakukan suatu aktivitas daripada melakukannya dengan kemauan sendiri.

Lantas mana yang lebih baik antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik? 

 

Menurut SDT, orang yang memiliki motivasi intrinsik cenderung menunjukkan peningkatan performa, kreativitas, dan well-being (kebahagiaan) secara umum. Dengan kata lain, ada manfaat lebih yang didapat manusia ketika ia terdorong untuk melakukan suatu tindakan yang dilandasi motivasi intrinsik.

Perlu diketahui juga bahwa setiap orang pasti memiliki ketujuh jenis motivasi ini, hanya saja tingkat motivasi yang mendominasi pada diri masing-maing individu berbeda. Sebagai contoh, si A bisa saja memiliki IM to know dan to experience yang lebih mendominasi dibandingkan tipe motivasi lainnya. 

Memberi Reward Tidak Selalu Baik untuk Belajar

Terdapat satu topik menarik yang membahas tentang dinamika antara motivasi ekstrinsik dan intrinsik. Para ahli mendapati sebuah fenomena yang disebut dengan “overjustification” yang menggambarkan suatu kondisi ketika motivasi intrinsik dapat berubah menjadi motivasi ekstrinsik apabila motivasi intrinsik tersebut diganjar dengan extrinsic reward seperti hadiah. Dengan kata lain, memberikan imbalan ekstrinsik atas tindakan-tindakan yang semestinya dilandasi dorongan intrinsik dapat merusak performa dan pencapain seorang individu karena motivasi intrinsik pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk meningkatkan performa, kegigihan, kreativitas, dan well-being secara umum. Apabila motivasi intrinsik hilang dan tergantikan dengan motivasi ekstrinsik maka keunggulan dari motivasi intrinsik tidak akan didapatkan oleh individu tersebut. 

Lalu apa solusi untuk mengatasi overjustification?

Mengatasi masalah ini, dapat dipertimbangkan untuk memberi reward pada pencapain yang didapat, bukan pada aktivitas belajar yang belum ada pencapaiannya.   


Itulah penjelasan mengenai jenis-jenis motivasi akademik. Lalu, apa motivasi belajar yang dominan pada dirimu?


Sumber:
Boniwell, I. (2012). Positive psychology in a nutshell: The science of happiness. London: Open University Press

Compton, W. C. (2005). Introduction to Positive Psychology. Thomson Wadsworth.

Vallerand, R. J., Pelletier, L. G., Blais, M. R., Brière, N. M., Senècal, C. B., & Vallières, E. F. (1992). The Academic Motivation Scale (AMS-C 28) College Version. Educational and Psychological Measurement.52(4), 1003–1017.

Ryan, R. M., & Deci E. L. (2000). Intrinsic and extrinsic motivations: Classic definitions and new directions. Contemporary Educational Psychology, 25, 54-67. doi:10.1006/ceps.1999.1020

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama