Tradisi Ngobeng: Kearifan Lokal Bernuansa Islami Ala Masyarakat Palembang

Syarat manusia untuk tetap bisa hidup di dunia adalah bertahan hidup, untuk bertahan hidup, manusia harus memenuhi beberapa asupan yang terkandung dalam sebuah makanan. Berbicara soal makanan, Indonesia juaranya. Contohnya Palembang, di daerah tersebut terdapat makanan bernama roket dan kapal selam. Kebayang kan sob gimana uniknya orang Palembang bisa makan 'kapal selam' hehe. Mengerikan nggak sih? (wkwk canda sob, kapal selam adalah olahan pempek). Akan tetapi untuk keunikan masyarakat Palembang memang benar adanya, salah satunya adalah tradisi ngobeng.


Tradisi Ngobeng

Masyarakat Palembang memiliki sebuah tradisi yang bernama Tradisi Ngobeng. Ya, tradisi ini mungkin asing didengar. Tradisi Ngobeng sudah mulai memudar dikalangan masyarakat khususnya pada kalangan muda, padahal dalam tradisi tersebut terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang masih relevan, antara lain nilai persatuan, adanya komunikasi dalam interaksi sosial, saling menghormati dan membangun kegotong-royongan dalam masyarakat.



Tradisi Ngobeng adalah salah satu tradisi menghidangkan makanan yang dilakukan masyarakat Palembang dalam setiap acara atau kegiatan yang bertujuan untuk menjalin kebersamaan. Ngobeng merupakan kegiatan gotong-royong mangangkat makanan ke tempat hidangan. Masyarakat yang biasa terlibat dalam tradisi ini mulai dari keluarga yang melaksanakan acara, tetangga (serat jiron tetanggo), dan orang-orang yang menjadi sukarelawan petugas Ngobeng membantu acara biasanya juga para tamu undangan.


Tradisi Ngobeng ini dilakukan dengan cara mengoper makanan/hidangan dari dapur menuju tempat makan secara bergantian yang dilakukan oleh anggota Ngobeng, dengan cara berdiri membentuk shaf yang bertujuan agar makanan cepat sampai dan dengan dilakukannya secara gotong-royong maka beban orang yang mengangkat makanan akan lebih ringan. 


Mengangkat makanan ini juga memiliki urutan yang sesuai aturannya dimulai dari mengangkut nasi beserta dulang (piring nasi yang terbuat dari kayu) dilanjutkan dengan mengangkut makanan pencuci mulut yang sering disebut pulur menggunakan piring kecil setelahnya mengangkut iwa’ atau lauk-pauk menggunakan piring sedang dilanjutkan dengan mengangkut air putih dan yang terakhir menggangkut piring.


Urutan penyajian tidak bisa disepelehkan karena agar dalam hidangan tersebut membentuk filosofi yang sesuai dengan tradisi Ngobeng  yaitu hidangan seperti batang hari sembilan dimana palembang sebagai sentral dan berpusat pada pusat pemerintahan kesultanan Palembang Darusalam serta terdapat kegotong-royongan antar warga artinya walaupun beda strata dapat membaur satu dengan yang lain.



Berdasarkan hasil wawancara langsung bersama 3 informan terdapat hasil yang menjelaskan bahwa Tradisi Ngobeng merupakan tradisi masyarakat Palembang yang sudah ada sejak abad 15 SM yang dilakukan pada lingkungan kesultanan Palembang Darusalam, dan pada perkembangannya sekarang sudah menjadi tradisi rakyat yang masih dilestarikan masyarakat Palembang. 


Nilai Islami dalam Tradisi Ngobeng

Tradisi ini sangat kental dengan pengaruh islam karena tradisi ini dibawa oleh orang timur tengah yang dibenahi oleh masyarakat palembang mulai dari aturan manusia yang semulanya 4 orang menjadi 8 orang, dan lauk-pauk yang dicampurkan kini dipisahkan karena masalah kebersihan yang sebelum makan harus diawali dengan cuci makan.Tradisi ini merupakan tradisi makan yang mengikuti sunah Rasul (Nabi Muhammad SAW) dengan cara makanan dihidangkan membentuk lingkaran secara bersama-sama dengan duduk bersilah dilantai dan makan menggunakan tangan. 


Pelaksanaan Tradisi Ngobeng

Tradisi Ngobeng merupakan tradisi yang dilakukan pada saat acara kecil maupun besar yang dilakukan oleh masyarakat Palembang. Tradisi Ngobeng menjadi salah satu dari bagian acara atau kegiatan masyarakat pada acara tertentu, yakni pada saat hari Mungga (pernikahan palembang), acara Nimbang Bunting (tujuh bulanan), acara Ngoonteng(marhaban), acara Nyunatke , acara  Beratib (Syukuan setelah nikah), acara Noojo Ari (tahlilan), acara Maulid Nabi Muhammad SAW serta pada saat Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha dengan tradisi umpak-umpakan.


Jadi begitulah sob keunikan dari tradisi ngobeng, oh ya tradisi ini juga akan didaftarkan oleh Pemkot Palembang ke UNESCO. Keren banget kan? Ayo siapa yang ingin nyobain ikut andil dalam tradisi ngobeng?.


Kontribusi tulisan oleh: Maya Hamida


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama