ANXIETY: Kenali Alasan Kenapa Kita Merasa Cemas Tanpa Sebab



Merasa cemas (anxious) merupakan respon alami tubuh manusia dalam menghadapi suatu hal atau kejadian yang dianggap mengancam diri (threat). Respon ini bermanfaat untuk membantu kita menghadapi 'ancaman' tersebut dengan mengaktifkan mode fight-flight pada tubuh. Dalam hal ini, akan terjadi reaksi fisiologis seperti peningkatan detak jantung, pelebaran pupil mata, dll. Pada konteks kehidupan sehari-hari, rasa cemas umumnya akan muncul ketika kita mengerjakan aktivitas atau tugas tertentu yang menuntuk kerja otak yang cukup berat. Sementara itu, rasa cemas biasanya akan menghilang ketika kita beristirahat dan tidur. Dengan kata lain, pada rentang waktu satu sehari penuh, kita akan mengalami beberapa kali peningkatan rasa cemas seiring dengan peningkatan kesulitan aktivitas yang kita jalani dan penurunan rasa cemas tersebut setiap kali kita beristirahat dari aktivitas yang dikerjakan.

Terlepas dari fungsi rasa cemas yang muncul sebagai reaksi alami tubuh manusia, ada kalanya kita mendapati diri sendiri sering mengalami kecemasan walau dalam kondisi yang santai sekalipun. Kondisi seperti ini apabila terjadi berkepanjangan dapat memicu stress dan depresi. Selain itu, hal ini akan mengganggu aktivitas sehari-hari karena kita menjadi mudah lelah akibat burnout. 

Lalu, apa yang menyebabkan kita sering merasa cemas tanpa sebab?


Sympathetic VS Parasympathetic Response

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang alasan munculnya rasa cemas, terdapat hal yang perlu kita pahami yang berkaitan erat dengan proses aktivasi rasa cemas pada manusia yaitu respon simpatik dan parasimpatik. Kedua respon ini merupakan respon otomatis yang berasal dari sistem syaraf manusia. Singkatnya, respon simpatik dan parasimpatik memberikan pengaruh pada tubuh manusia dalam dua cara yang berbeda. Ilustrasi lebih jelas dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Adapun kedua jenis respon ini memicu perubahan fisiologis yang berbeda pada tubuh manusia. Sympathetic response yang berfungsi mengaktifkan mode 'waspada' dapat memicu reaksi seperti merilekskan saluran udara pada pernapasan dan kandung kemih, menghalangi aktivitas di dalam perut, melebarkan pupil mata, meningkatkan detak jantung, dll. Hal inilah yang membuat perasaan tidak nyaman ketika seseorang mengalami rasa cemas karena detak jantung berdetak dengan cepat, tarikan napas menjadi semakin pendek, berkeringan, emosi menjadi cenderung lebih agresif dan keinginan untuk selalu buang air kecil. Sedangkan, parasypathetic response memicu reaksi fisiologis yang sebaliknya yaitu mengurangi kecepatan detak jantung, menstimulasi aktivitas dalam perut, menyempitkan pupil mata, saluran pernapasan, dan kandung kemih. Reaksi ini umumnya dirasakan ketika tubuh dalam kondisi rileks.

Mana yang lebih baik antara respon simpatik dan para simpatik?

Aktivitas keseharian manusia digambarkan sebagai roda yang berputar. Hal ini dikarenakan proses yang terjadi pada sistem syaraf berupa siklus naik dan turun. Respon simpatik membantu manusia mengerjakan aktivitas sehari-hari dan respon parasimpatik membantu manusia beristirahat setelah selesai mengerjakan aktivitas tersebut. Kedua respon ini dapat digambarkan sebagai otot, bagian otot yang paling sering digunakan akan menjadi yang paling kuat. Dengan kata lain, respon yang paling sering 'digunakan' akan menjadi lebih kuat dibanding respon lainnya. Sistem syaraf yang sehat ditunjukkan dengan kemampuan untuk berpindah dari respon simpatik ke parasimpatik dengan mudah. Pada kasus rasa cemas yang sering muncul tanpa penyebab, respon simpatik lebih sering aktif dibandingkan dengan respon parasimpatik. Hal ini menyebabkan tubuh tidak dapat rileks dan beristirahat karena respon parasimpatik tidak aktif bekerja. Di sisi lain, respon parasimpatik lama kelamaan akan semakin sulit bekerja karena semakin jarang 'digunakan'.




Selain itu, individu yang memiliki sistem syaraf yang sehat memiliki kecenderungan lebih sering berada pada kondisi respon parasimpatik. Dengan kata lain, kondisi mental yang sehat adalah ketika seorang individu lebih banyak menjalani waktunya dalam kondisi yang tenang (calm) dibandingkan cemas (anxious). Menjalani keseharian yang lebih didominasi oleh rasa cemas, bahkan apabila kecemasan itu terjadi tanpa adanya penyebab yang jelas, menandakan bahwa perlu dilakukan intervensi untuk kembali membiasakan aktivasi respon parasimpatik. 


Terjebak dalam respon simpatik

Terdapat beberapa hal yang menjadi alasan munculnya rasa cemas tanpa sebab yang jelas yaitu:
  • Otak sebagai pusat pikiran manusia memiliki banyak sekali fungsi yang membantu kegiatan sehari-hari. Salah satu kemampuan yang dimiliki otak adalah pengendalian diri (self-control). Sayangnya, fungsi self-control sering kali mengganggu kemampuan alamiah manusia untuk memproses emosi pada dirinya. Sebagai contoh, ketika mengalami suatu hal yang tidak menyenangkan maka emosi seperti marah dan sedih meningkat, otak sering memunculkan pikiran seperti "Jangan menangis!", "Bersikaplah seolah aku baik-baik saja!", "Hal ini terlalu memalukan untuk diungkapkan.", dll. Kemampuan self-control ini tentunya bermanfaat bagi manusia, hanya saja emosi yang tidak dapat dialirkan dan diproses dengan baik lama kelamaan akan terperangkap di dalam tubuh. Hormon stress yang tidak dapat diproses dengan baik akan selalu dibawa di dalam tubuh sehingga tanpa disadari kita sering mengalami perasaan cemas bahkan tanpa penyebab yang jelas. 
  • Trauma yang belum terselesaikan dan stress kronis dapat menyebabkan tubuh terjebak dalam respon simpatik dalam waktu yang lama. Individu yang berada pada kondisi ini akan sangat sensitif terhadap reaksi fight-flight atau dengan kata lain akan sangat mudah menjadi cemas bahkan ketika menghadapi suatu hal atau kondisi yang sama sekali bukan merupakan 'ancaman'.
Itulah penjelasan mengenai penyebab munculnya rasa cemas pada manusia. Pada intinya, melatih untuk mengaktifkan respon parasimpatik penting untuk dilakukan agar kita terbiasa untuk menenangkan diri setelah menghabiskan waktu dalam mode fight-flight serta agar dapat mengalirkan emosi yang dirasakan dengan baik. 

Penulis: Ayu Ulivia

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama