Aku dan Rombongan yang Tertahan

gambar: suara.com


Kata-kata berlarian di kepalaku,
mereka berebut ruang lengang pada rongga mulut,
berdesakan pada ujung lidah.

Mereka telah menempuh perjalanan panjang,
dari celah hati yang sedikit peka
hingga sampai tepat di depan deretan gigi,
terseok menanti, berulang kali mencoba berontak,
berunjuk rasa di depan gerbang bibir yang tak bercela.

Aku tau dengan pasti,
terlalu banyak kunci yang harus mereka buka,
ada banyak ketakutan pada anggota tubuh lain yang musti renungi berulang kali, 
ketakutan perut akan lapar,
ketakutan kaki akan kebebasan menapak,
bahkan jenis ketakutan yang tak terdefinisi juga harus mereka waspadai.

Mereka juga tau pasti itu,
hingga akhirnya,
rombongan itu akhirnya aku paksa untuk tetap harus bersabar, 
bersabar menunggu atau kubiarkan kembali masuk ke tenggorokan,
lalu terjun entah kemana.

Sebab aku,
dan segala perasaanku masih terlalu nyaman bernapas dengan mulut tertutup rapat.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama