Mengubah Insecure Menjadi Bersyukur


Insecure adalah keadaan ketika seseorang merasa tidak aman, cemas, dan takut terhadap suatu hal yang ada pada dirinya atau orang lain. Istilah ‘insecure’ mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita sebab akhir-akhir ini sangat marak dibicarakan. Banyak forum yang membahas hal ini terlebih lagi di jagat raya.

Sebetulnya perasaan insecure bukanlah hal yang baru. Nenek moyang kita pun bisa jadi pernah mengalaminya. Namun, ketika hal ini semakin banyak dibahas dan dibicarakan, akan semakin banyak orang-orang yang mendiagnosis dirinya mengalami insecure padahal awalnya merasa baik-baik saja. Terlepas dari semua itu, pada akhirnya pembahasan mengenai insecure tidak bisa dihindarkan. 

Sebetulnya, apa penyebab rasa insecure ?. Setiap individu bisa jadi faktor penyebabnya berbeda-beda. Ada yang mungkin karena trauma, merasa memiliki banyak kekurangan tapi tidak memiliki keyakinan untuk bisa memperbaiki, terlalu banyak membandingkan diri, tidak percaya akan kemampuan diri, selalu merasanya lebih rendah dari yang lain, dan singkatnya ia belum bisa menerima kondisi yang ada pada dirinya.

Perasaan insecure sebenarnya adalah hal yang wajar, ia merupakan refleksi dari gharizah atau naluri baqo’, yang mana ia menuntut atas eksistensi diri, ingin merasa dihargai, diapresiasi, tidak ingin direndahkan, tidak ingin dibandingkan, dan selalu ingin menampakkan kesempurnaan. Jika semua hal itu tidak dapat terpenuhi, maka mucul masalah merasa tidak aman, khawatir hingga takut yang berlebih.

Contoh insecure:

“Kenapa aku tidak seganteng dia?”

“Ya Allah kenapa tubuhku pendek dan gendut seperti ini?”

“Enak ya jadi mereka. Punya uang banyak, bisa belanja sepuasnya”

“Mereka sudah lulus aja sedangkan aku masih harus mengulang mata kuliah”

Kondisi fisik yang dianggap tidak sempurna, keadaan ekonomi yang tidak stabil, prestasi akademik, hubungan karir dan lainnya merupakan ranah yang membuat seseorang merasa insecure

Nah teman-teman perlu kita pahami bahwa kehidupan manusia mempunyai dua ranah. Pertama, ranah yang dikuasai manusia yang di dalamnya manusia diberi kebebasan untuk memilih sehingga akan dipertanggungjawabkan pada hari penghisaban. Kedua, ranah yang menguasai manusia yang mana tidak ada pilihan di dalamnya, mansia hanya diminta menerima dan tidak akan diminta pertanggungjawaban. 

Bagaimana bentuk tubuh kita, warna kulit yang kita miliki, dilahirkan dari keluarga mana, semua hal ini merupakan kondisi yang berada pada ranah kedua. Kita tidak bebas memilih, hanya dituntut untuk menerima. Sayangnya, hari ini kita banyak disibukkan oleh urusan fisik. Lebih banyak membandingkan dengan yang lain, cenderung tidak mensyukurinya bahkan menghujat kondisi fisik sendiri. Disinilah letak bahayanya jika kita merasa insecure dalam ranah ini.

Lalu bagaimana jika insecure dalam hal prestasi dan karir ?. Penyelesaiannya bisa dengan dua hal, bergantung pada sudut pandang mana yang digunakan. Jika dinilai dari sudut pandang positif, maka insecure ini bisa menghantarkan pada motivasi untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Sebaliknya, jika sudut pandang negatif yang dipakai maka insecure ini hanya akan memperumit kondisi.

Adapun cara menghindari insecure yaitu memiliki standar hidup, kenali diri termasuk kekurangan dan kelebihan, terima kondisi diri bagaimana pun kondisinya, syukuri hal apa pun yang dimiliki saat ini, fokus pada kelebihan dan tingkatkan kapasitas diri, serta bergaul dengan lingkungan yang positif.

Sesuatu yang bisa kita ubah mari kita ubah menjadi lebih baik. Sesuatu yang tidak bisa ubah yang sifatnya anugerah mari kita syukuri.

Penulis: Neng Wina Hartati (Penulis buku Be the first, be the best, be different)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama