Kapan Negara +62 Bebas dari Polusi Plastik?

 

       (foto: indiantimes)

    Sadar atau tidak, polusi plastik menjadi ancaman bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup . Tidak ada alasan untuk sulit lepas dari ketergantungan plastik. Mulai dari diri sendiri dan tunjukkan komitmen yang nyata. Sebelum lautan plastik terlanjur menggunung dan menjadi lingungan baru yang mengancam kehidupan.


Sampah plastik nampaknya masih menjadi masalah lingkungan utama di seluruh  dunia. Masalah yang masih dianggap sepele ini, nyatanya terus menghantui dan mengancam keberlangsungan hidup flora dan fauna di lingkungan. Bahkan, National geographic memprediksi jumlah polusi plastik 10 tahun kedepan diperkirakan akan mencapai lebih dari 58 juta ton pertahun. Angka ini justru dikhawatirkan akan terus meningkat, apabila pemerintah diseluruh dunia tidak memberikan komitmen dan peran nyata dalam menangani masalah polusi plastik. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?


Indonesia Solid Waste Association (InSWA) menyebut kondisi polusi plastik di Indonesia tengah memasuki stadium 5, waduh!. Hal ini sejalan dengan data yang dirilis oleh Sustainable Waste Indonesia bahwa jumlah polusi plastik yang dihasilkan Indonesia mencapai lebih dari 64 juta ton per tahun pada tahun 2018. Tidak heran jika Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai Negara penyumbang sampah plastik di dunia. Believe or not, that’s the truth guys!


Jumlah sampah plastik yang tiap tahun terus menggunung, membuat kita bertanya, “Kapan Indonesia bisa menekan jumlah polusi plastik?”


Sebelum menjawab pertanyaan itu, mungkin diri kita masing-masing wajib menjawab pertanyaan ini nih….


“Berapa sering kalian membeli minuman botol dalam satu hari?,


Seberapa banyak kantong plastik yang kalian dapatkan ketika berbelanja?


Seberapa banyak plastik yang digunakan oleh pedagang makanan untuk mengemas makanan kalian? Atau...


“Seberapa banyak sampah plastik yang sering kalian lihat di sepanjang jalan atau di lingkungan sekitar kalian”


Jawabannya pasti sama, “Ada buanyakkk….”


Plastik botol dan kemasan makanan masih menjadi penyumpang sampah plastik di Indonesia. Hal ini turut dipengaruhi oleh jumlah pelaku usaha food and beverage yang juga kian meningkat. Masih banyak pelaku usaha yang menggunakan plastik. Hal ini disinyalir menjadi salah satu penyebab peningkatan jumlah sampah plastik di Indonesia.


Disisi lain, tren belanja online yang saat ini kian meningkat nyatanya turut berpengaruh terhadap peningkatan jumlah sampah plastik. Pasalnya, terjadi peningkatan sampah plastik dari penggunaan bubble wrap dan bungkus plastik dari pengiriman paket hasil transaksi belanja online. Hasil studi LIPI menyebut bahwa sampah plastik dari transaksi belanja online dan pengriman paket meningkat hingga 3 kali lipat di tengah pandemi.


Pada akhirnya, kondisi tersebut menjadi dilema bagi pemerintah dan masyarakat. Disaat aktivitas ekonomi dan produktivitas usaha masyarakat yang sebagian besar merupakan pelaku UMKM terus berkembang. Kondisi polusi plastik juga justru turut meningkat. Minimnya pilihan alternatif selain penggunaan plastik dalam usaha, membuat plastik seolah-olah menjadi satu-satunya pilihan.


Penggunaan sedotan stainless hingga tumbler sebagai upaya pengurangan penggunaan sedotan dan botol mineral plastik yang sempat menjadi tren dikalangan anak muda 2 tahun lalu, nampaknya belum sepenuhnya mengubah kebiasaan seluruh lapisan masyarakat. Tidak heran jika tren tersebut hanya sebatas efek soda sesaat.


Well, Kampanye gerakan tanpa plastik sebenarnya sudah digaung-gaungkan oleh pemerintah, terutama sejak 5 tahun terakhir. Sebagai gerakan nyata, pemerintah telah menetapkan tarif cukai terhadap penggunaan plastik sejak 2016 silam. Selain itu, berbagai perusahaan pun turut berkomitmen dengan mengurangi penggunaan sampah plastik pada produk yang dijual. Sebut saja PT. Tirta Investama, pemilik merek “Aqua” yang berhasil meningkatkan jumlah daur ulang botol. Serta perusahaan di bidang fast food, KFC dan McDonald’s yang juga berhasil  mengurangi lebih dari 518 ton penggunaan plastik. Namun lagi-lagi, hal tersebut belum menunjukkan dampak yang signifikan terhadap pengurangan sampah plastik di Indonesia.


Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 267 juta jiwa, membuat penanganan masalah sampah plastik tentu menjadi sebuah tantangan. Butuh optimisme dan komitmen nyata dari semua lapisan masyarakat.


Perlu adanya inovasi dan kesadaran dari pelaku bisnis dan konsumen untuk sama-sama mengganti atau bahkan mengurangi penggunaan plastik. Misalnya saja mengganti sedotan plastik dengan sedotan stainless. Atau, memilih menggunakan goodie bag berbahan serat yang justru dapat digunakan berulang-ulang. Hal-hal kecil inilah yang harusnya bisa kita lakukan. Secara tidak langsung, perubahan kebiasaan ini diharapkan menjadi budaya baru di tengah masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik.


Kesadaran diri sendiri menjadi kunci dari masalah polusi plastik. Dimulai dari kebiasaan sehari-hari yang harus berkomitmen dan berperan nyata dalam mengurangi penggunaan plastik. Sudah saatnya kita semua berani menjadi agen perubahan dengan menggeser kebiasaan lama yang amat ramah dengan penggunaan plastik. Dengan itu, status Indonesia sebagai Negara penyumpang sampah plastik di dunia dapat lepas dari pundak Negara +62. (frl)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama