Membangun Kerukunan di tengah Keberagaman : Suatu Pendekatan Historis di Sumatera Selatan


“Berbeda-beda namun tetap satu jua”

Suatu semboyan yang mampu dengan tepat menggambarkan realitas masyarakat Indonesia. Hidup dalam kemajemukan menjadikan Indonesia kaya akan adat-istiadat dan budaya. Menurut M.A Jaspan terdapat 366 suku bangsa di Indonesia, pendapat ini menggunakan patokan atau kriteria yang didasarkan pada bahasa, daerah, kebudayaan, dan susunan masyarakatnya. Hal inilah yang menjadikan Nusantara menjadi negeri yang kaya akan budaya.

Sumatera Selatan terletak di lokasi yang strategis. Terbelah oleh Sungai Musi yang bermuara di Selat Bangka menjadikannya tempat persinggahan yang tepat untuk kapal-kapal pedagang asing. Selat Bangka yang kaya akan hasil lautnya hingga daratan Andalas yang kaya akan hasil alamnya menjadikan Sriwijaya menjadi pusat perdagangan internasional pada masanya. Bahkan Sungai Musi yang dikenal dengan sebutan Batanghari Sembilan karena terdiri dari sembilan sungai yaitu Sungai Musi, Sungai Komering, Sungai Rawas, Sungai Leko, Sungai Lakitan, Sungai Kelingi, Sungai Lematang, Sungai Semangus , dan Sungai Ogan dijadikan sebagi daerah utama penghasil pangan penopang kerajaan seperti daerah Sungsang yang mana merupakan daerah utama penghasil ikan.

Masyarat Sumatera Selatan  secara garis besar terbagi menjadi tiga golongan, yaitu golongan Pribumi ( Melayu, Jawa, Ogan, Komering, dll), Arab, dan Tionghoa. Kelompok Pribumi ini juga terdiri dari beberapa kelompok seperti Palembang, Jawa, Minang, dll. Bahkan kelompok masayarakat asli Sumatera Selatan pun masih dapat dikelompokkan lagi menjadi beberapa suku seperti Komering, Basemah, Pegagan, Meranjat, Senuro, dan masih banyak lagi. Setiap suku mempunyai budaya masing-masing baik dalam bentuk bahasa, makanan, pakaian, dan rumah. 

Pegagan adalah salah satu suku yang dapat dijumpai di daerah Sumatera Selatan. Suku ini banyak bermukim  disepanjang Sungai Ogan yang merupakan anak dari Sungai Musi, baik itu di Sungai Ogan bagian hilir yang dikenal dengan Pegagan Ilir maupun di Sungai Ogan bagian hulu yang dikenal dengan Pegagan Ulu. Kebudayaan yang dihasilkan oleh suku ini pun mampu menambah kekayaan budaya masyarakat Sumatera Selatan seperti makanan yang dikenal dengan Pindang Pegagan, dan bahasa yang dikenal dengan Bahasa Pegagan.

Selain budaya pribumi, di Sumatera Selatan juga berkembang pesat kehidupan kelompok-kelompok masyarakat asing. Mereka hidup saling berdampingan dengan damai hingga terciptalah suatu kondisi multikulturalisme di Sumatera Selatan. Kedatangan orang-orang asing ini berawal dari masa kerajaan Sriwijaya. Mereka datang sebagai pedagang yang lama- kelamaan menikah dengan pribumi dan menetap  hingga menghasilkan keturunan.

Pada masa kerajaan Sriwijaya, dikabarkan dari sebuah catatan kuno dari Tiongkok bahwa pada abad ketujuh kebudayaan Islam sudah memasuki daerah nusantara. Hal ini ditanda deingan adanya perkampungan orang-orang Arab di Sriwijaya pada tahun 625 M yang dahulu dikenal dengan Zabaq. Perkampungan ini berada pada kedua sisi Sungai Musi yang saling berseberangan. Hingga sekarang, perkampungan tersebur masih dapat dijumpai  di sepanjang Sungai Musi, baik di bagian hilir maupun yang di bagian hulu, yang tepatnya berada di Lorong Asia dan kampung Sungai Bayas, Kelurahan Kotabatu, Kecamatan Ilir Timur 1 di bagian hilir Sungai Musi dan Lorong Sungai Lumpur di Kelurahan 9-10 Ulu, kemudian di Lorong BBC di Kelurahan 12 Ulu, Lorong Almunawar di Kelurahan 13 Ulu, Lorong Al-Hadad, Lorong Al-Habsy dan Lorong Al-Kaaf di Kelurahan 14 Ulu, dan Kompleks Assegaf di Kelurahan 16 Ulu di bagian hulu sungai musi. Kedua tempat ini sangat menggambarkan kabar tentang keberadaan Zabaq pada masa kerajaan Sriwijaya.

Pada masa Sriwijaya juga berkembang kebudayaan Tionghoa. Diketahui dari berita Tiongkok bahwa para pedagang Tionghoa seringkali singgah di Sriwijaya sebelum melanjutkan perjalanan ke India dan Arab. Berita dari Tiongkok juga menyebutkan pada abad ketujuh di Sumatera telah ada beberapa kerajaan, antara lain Kerajaan Tulang Bawang di Sumatra Selatan, Melayu di Jambi, dan Sriwijaya. Selain itu, Pada 1407 Kota Palembang yang berada di bawah kekuasaan Sriwijaya pernah meminta bantuan armada Tiongkok yang ada di Asia Tenggara untuk menumpas perompak-perompak Hokkian yang mengganggu ketenteraman.

Keragaman suku dan kebudayaan pada masyarakat Sumatera Selatan menciptakan suatu keadaan multikulturalisme pada masyarakatnya. Menurut J.S Furnivall masyarakat Multikultural dapat diartikan sebagai suatu masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama lain didalam suatu kesatuan pilitik. Walaupun hidup tanpa pembauran secara langsung, masyarakat multikultural dituntut untuk hidup penuh toleransi saling pengertian antar budaya, dan antar bangsa dalam membina suatu dunia baru. Keberagaman pada masyarakat Sumatera Selatan dapat terlihat pada banyaknya kelompok masyarakat yang ada sehingga setiap kelompok masyarakat memiliki kebudayaan dan kepercayaan yang berbeda.


(Rumah utama di kampung kapitan)
Sumber : http://nationalgeographic.co.id

Foto diatas adalah gambaran Rumah Kapitan yang terdapat di Kampung Kapitan Palembang. Rumah tersebut adalah salah satu bukti multikulturalisme masyarakat Sumatera Selatan. Rumah ini adalah Rumah Limas asli Sumatera Selatan yang berarsitektur Tionghoa dan Eropa yang terletak di perkampungan khusus keturunan Tionghoa di Palembang. Kampung Kapitan terletak di Jalan KH Azhari Kelurahan 7 Ulu Seberang Ulu I Palembang. Pada masyarakat Tionghoa di Kampung Kapitan, mereka hidup bersama dengan masyarakat pribumi namun tidak membaur secara langsung. Masyarakat  pribumi yang hidup di kawasan tersebut tinggal mengelilingi perkampungan mereka. Masyarakt di Kampung Kapitan memiliki subkebudayaan yang khas yaitu percampuran antara kebudayaan Lokal, Tionghoa, dan Eropa. Hal ini dapat dilihat dari arsitektur rumah utama yang merupakan ikon dari Kampung Kapitan.

Rumah Kapitan (rumah utama di Kampung Kapitan) telah berdiri selama kurang lebih 400 tahun dan terdiri dari tiga rumah utama. Rumah pertama (rumah paling kanan) adalah Rumah Limas dengan gaya arsitektur Tionghoa. Pada sekeliling rumah terdapat pintu-pintu dan jendela-jendela yang berjumlah genap. Jumlah genap adalah ciri khas kepercayaan masyarakat Tionghoa yang menganggap bahwa angka genap sebagai gambaran dari sisi baik dan sisi buruk. Pada bagian dalam rumah, lantainya berbentuk punden berundak, hal ini dipengaruhi oleh kebudayaan lokal yang bermakna dalam hidup terdapat tingkatan-tingkatan tertentu, seperti raja, ahli agama, rakyat biasa, hingga budak. Rumah pertama ini pada zaman Kapiten Tjoa Ham Him dijadikan sebagai pengadilan pemerintah, dan dibagian bawahnya dijadikan sebagai penjara sementara karena pada zaman itu kapiten diberi kekuasaan oleh pemerintah Palembang untuk memimpin daerah tersebut.

Rumah kedua (rumah yang ditengah-tengah) adalah Rumah Limas yang berarsitektur Eropa. Rumah Limas biasanya dibuat dari bahan kayu, namun rumah ini dibuat dari beton. Pembuatan rumah dari beton ini ditujukan supaya rumah bisa menyimpan panas pada saat suhu udara dingin dan menahan panas pada suhu udara panas sehingga penghuni rumah dapat merasa sejuk ketika berada didalam rumah. Perhiasan yang ada dibagian dalam rumah menggambarkan kebudayaan Tionghoa. Bagian dalam rumah dihiasi dengan benda-benda antik bertuliskan tulisan Tionghoa yang cukup sulit untuk dimengerti. Pada masanya rumah kedua ini dijadikan sebagai kantor pemerintahan.

Rumah ketiga (rumah paling kanan) adalah rumah limas yang beraritektur Tionghoa. Rumah ketiga ini tidak jauh berbeda dengan rumah pertama. Pada masanya, rumah ini dijadikan sebagai rumah para punggawa pemerintahan. Ketiga rumah ini saling menyatu dengan penghubung berupa teras yang panjang yang menghubungkan rumah pertama sampai rumah ketiga. Ketiga rumah utama di kampung kapitan memiliki rumah sambungan yang berada di bagian belakang. Rumah ini merupakan Rumah Limas dengan arsitektur asli Sematera Selatan yang difungsikan sebagai dapur.

(Rumah di kampung Arab assegaf)
Sumber : http://putuliliksupandi.blogspot.co.id

Setelah Kampung Kapitan dengan masyarakat Tionghoanya, di Palembang juga dapat dijumpai kehidupan kelompok masyarakat Arab. Kelompok masyarakat Arab di palembang terdiri dari berbagai kelompok keturunan yang berbeda, salah satunya kelompok  masyarakat Arab yang ada di Kampung Arab Assegaf Kelurahan 16 Ulu Kecamatan Seberang Ulu 2 Palembang. Mereka hidup bersama dengan kelompok mereka dan dikelilingi oleh masyarakat pribumi. Terletak ditepi sungai musi, Kampung Arab Assegaf didirikan oleh Habib Alwi al Habsyi seorang asli Arab pada akhir abad ke sembilan belas. Pola permukiman masyarakat Arab di kampung Arab assegaf ini memiliki kesamaan dengan pola permukiman masyarakat di Kampung Kapitan.  Kampung Arab ini dihuni oleh seluruh keturunan Arab dari Habib Alwi al Habsyi. Mereka tinggal berkelompok dalam satu kawasan khusus yang semuanya berasal dari keturunan yang sama. Sedangkan masyarakat pribumi bermukim disekeliling perkampungan Arab ini.

Foto diatas adalah foto salah satu rumah yang ada di perkampungan Arab Assegaf. Rumah ini memiliki arsitektur khas yang sangat jauh berbeda dengan rumah asli masyarakat Sumatera Selatan. Tidak seperti Rumah Kapiten di Kampung Kapitan yang merupakan percampuran budaya asli dan asing, rumah masyarakat di Kampung Arab Assegaf ini merupakan rumah dengan arsitektur murni dari Eropa. Arsitektur Eropa pada rumah ini dipengaruhi oleh kedatangan bangsa Eropa di Palembang. Kampung Arab ini didirikan pada abad ke sembilan belas yang berarti bahwa pada saat itu Nusantara berada dibawah kekuasaan Belanda.

Hidup bersama dalam perbedaan mengharuskan masyarakat memiliki sikap yang positif terhadap sesama. Keberagaman yang ada janganlah menjadikan masyarakat membuat suatu kasta antara satu ras dengan yang lainnya dalam kehidupan. Maka dari itu ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dan kita wujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal pertama yang harus kita wujudkan adalah keadilan bagi sesama tanpa memandang ras dan agama. Hal ini penting untuk diwujudkan sehingga dapat mengantisipasi rasa kecemburuan sosial pada masyarakat. Kecemburuan sosial dapat terjadi jika terdapat pembedaan kedudukan pada dan oleh masyarakat, kecemburuan ini dapat mewujudkan suatu kondisi perpecahan yang akhirnya meghasilkan konflik sesama saudara. Cukuplah Ambon dengan konflik agama tahun 1990, cukuplah Dayak dan Madura tahun 2001, dan cukuplah penyerangan terhadap Syiah di Sampang Madura 2004. Bangsa ini terkenal dengan Bhineka Tunggal Ika nya, bangsa ini harus kembali menjadi Macan Asia bukan Macan Asia yang Tertidur seperti yang dijulukkan sekarang ini. Marilah kita bangun kesamaan hak dan derajat antar sesama masyarakat Indonesia dan kita tinggalkan rasa egois terhadap sesama.

Hal kedua yang perlu dan harus kita wujudkan dalam kehidupan multikultural ialah pengenalan akan masing-masing kebudayaan sehingga akan tercipta rasa cinta terhadap sesama. Banyak cara yang dapat ditempuh dalam pengenalan kebudayaan kepada masyarakat dengan kebudayaan berbeda, salah satunya dengan menggalakkan wisata kebudayaan. Sumatera Selatan khususnya Palembang memiliki banyak kebudayaan yang mampu menarik minat masyarakat untuk mempelajarinya. Masyarakat dapat mengenal budaya yang berbeda melalui kunjungan pelajaran yang bisa dilakukan siswa ke tempat-tempat dengan kebudayaan berbeda. Kampung Kapitan dan Kampung Arab yang ada  di Palembang sudah cukup pantas untuk dijadikan tempat berwisata kebudayaan bagi masyarakat, sehingga mereka dapat  mengenal satu dengan yang lainnya.

Hal ketiga yang perlu dan harus ada pada masyarakat multikultural sehingga tercipta kehidupan yang harmonis adalah penguatan fungsi lembaga pengendali sosial. Lembaga pengendali sosial adalah suatu alat untuk menjaga ketertiban di masyarakat yang dalam tugasnya adalah sebagai pengayom masyarakat. Lembaga pengendali sosial ini dapat berupa ketua RT, pemuka agama, dan ketua adat. Lembaga pengendali sosial diharapkan mampu manjaga kerukunan antar masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Seperti halnya masyarakat yang tinggal di Kampung Kapitan Palembang, mereka menjadikan keturunan kapitan sebagai pemuka adat daerah setempat sehingga setiap orang yang ini melaksanakan suatu kegiatan di daerah tersebut harus mendapatkan izin dari pemuka adat demi lancarnya pelaksanaan kegiatan. Selain pemuka adat, RT dan RW juga harus mengambil peranan penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat. Sebagai pimpinan yang turut langsung membaur dengan masyarakat mereka adalah orang pertama yang harus mengenal keadaan asli yang terjadi di masyarakat sehingga berbagai kemungkinan konflik yang terjadi pada masyarakat dapat ditangani sedini mungkin.

Indonesia negeri yang dengan susah paya meraih kemerdekaannya. Ribuan liter darah yang tumpah dan mengering menjadi bukti kesungguhan hati para pejuang bangsa untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat. Diakui dan dihormati oleh negara lain sebagai bangsa yang merdeka adalah suatu cita-cita luhur para pejuang bangsa. Maka dari itu marilah kita isi kemerdekaan ini dengan persatuan bukan perceraian. Marilah kita isi kemerdekaan ini dengan berbagai hal bermanfaat budan hal yang merugikan. Kebersamaan adalah keberhasilan dan perceraian dalah kegagalan. Marilah kita wujudkan suatu Indonesia yang berhasil, Indonesia dengan julukan Macan Asia karena Indonesia negeri yang jaya.

Penulis: Muhammad Riswan

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama