Islamic Psychology: Perkembangan Psikologi Islam Kontemporer



Ilmu Psikologi yang berkembang sekarang kebanyakan didominasi oleh teori-teori para ahli dari barat. Lalu muncul pertanyaan tentang apakah Islam sebagai agama yang kaffah dalam mengatur urusan ummatnya juga memiliki pembahasan yang berkaitan dengan psikologi manusia. Jawabannya: Iya. Jika membahas tentang psikologi islam maka kita akan menemui rujukan sumber yang beragam dengan ciri konsep yang beragam pula, sesuai dengan gagasan yang dibentuk oleh masing-masing cendekiawan muslim. Namun, bagaimana perkembangan ilmu psikologi islam kontemporer? untuk menjawab pertanyaan hal tersebut mari kita simak penjelasan "Perkembangan Psikologi Islam Kontemporer" di bawah ini.


Pada dasarnya psikologi bukanlah hal yang baru di dalam Islam. Al-Quran sebagai tuntunan utama umat muslim telah menjabarkan nilai-nilai ajaran yang jika dibandingkan memiliki kesamaan dengan konsep psikologi kontemporer. Sebagai contoh, konsep mindfulness (Baca juga: Mindfulness dalam perspektif islam) yang kini tengah banyak diperbincangkan oleh ahli kesehatan mental, pada dasarnya serupa dengan prinsip “muraqabah” yang telah lama diperkenalkan oleh ajaran Islam (Parrott, 2017). Contoh lainnya, hasil penelitian Awaad dan Ali (2015) mendapati bahwa konsep OCD (Obsessive Compulsive Disorder) yang dikenal di ilmu psikologi kontemporer telah lama diperkenalkan oleh seorang cendekiawan psikologi muslim yaitu Abu Zaid Al Balkhi pada abad ke 9. Hal ini, mengimplikasikan bahwa warisan cendekiawan muslim di dalam ilmu pengetahuan terutama pasikologi sangatlah kaya. Mengkaji psikologi dari pendekatan Islam tentu mengubah cara pandang kita tentang betapa menyeluruhnya Islam dalam memberikan tuntunan kepada manusia. Berikut penjelasan lebih lanjut tentang perkembangan psikologi islam kontemporer.


Sejarah Perkembangan Psikologi Islam Kontemporer

Berbicara tentang ilmu psikologi, kebanyakan teori yang menjadi kiblat dalam disiplin ilmu ini adalah teori-teori yang berasal dari barat yang memiliki kecenderungan bersifat sekuler karena sangat tegas dalam memisahkan unsur-unsur religiusitas yang dianggap tidak saintifik untuk dikaji. Dr G. Hussein Rassool (2021), seorang profesor psikologi islam menjelaskan bahwa psikologi kontemporer sekuler (kajian yang tidak berkaitan agama tertentu/ netral) dengan sangat popular digunakan dalam skala globa. Kata lainnya adalah kajian psikologi pada ranah-ranah akademik maupun praktik telah didominasi oleh pendekatan psikologi ini, termasuk di negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim. Meskipun demikian, kebutuhan untuk membangun kerangka berpikir disiplin ilmu psikologi dari sudut pandang Islami mulai timbul seiring dengan munculnya kekhawatiran atas beberapa aliran psikologi barat yang tidak sejalan dengan ajaran agama maupun budaya Islami, sebagai contoh, Prof. Malik Badri pada tahun 1979 melalui bukunya yang berjudul "The Dilemma of Muslim Psychologists" mengkritik dengan tegas aliran psikolgi psikoanalisis dan behaviorisme yang beberapa prinsip-prinsipnya menentang ajaran Islam yang benar.



Berkaitan dengan hal tersebut, dimulai lah upaya “desekularisasi” pada disiplin ilmu psikologi oleh para cendekiawan psikologi muslim. Hal ini dipengaruhi dengan munculnya pergerakan IOK (Islamisation of Knowledge) pada tahun 1970 yang bertujuan untuk membawa paradigma Islam pada sistem pendidikan di negara-negara mayoritas muslim yang kebanyakan sudah didominasi sistem sekuler. Terkhusus pada disiplin ilmu psikologi, upaya desekularisasi dilakukan dalam bentuk rekonstruksi kajian psikologi berdasarkan paradigma epistemology Islam (Rassool, 2021). Berkenaan dengan hal ini, menurut Badri (1979), tidak seluruh bagian dari psikologi barat harus diIslamisasi karena sifatnya yang universal dan tidak bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agama. Selanjutnya, terdapat beberapa pendekatan berbeda dalam proses Islamisasi psikologi menurut Haque (di dalam Rassool, 2021), yaitu:

  • Penyatuan model psikologi barat dengan kepercayaan dan praktik Islami 
  • Melakukan penelitian tentang catatan sejarah Psikologi Islam dan kelahirannya kembali di era modern 
  • Mengembangkan model teoritis dang kerangka berpikir dalam psikologi Islam 
  • Mengembangkan intervensi dan teknik dalam psikologi Islam 
  • Mengembangkan assessment tools dan scales normed yang dapat digunakan oleh muslim

Kini upaya Islamisasi psikologi telah berlangsung sekitar lima dekade. Adapun menurut Dr. Rassool (2021), yang menjadi evaluasi terbesar setelah kurun waktu tersebut adalah terdapat kelangkaan kerangka pendidikan dan pengembangan kurikulum dalam integrasi etika Islam dalam psikologi.


Bagaimana Islam Mendefinisikan Psikologi?

Terdapat bermacam definisi psikologi Islam dari banyak cendekiawan muslim dengan sudut pandang yang beragam.
International Association of Islamic Psychology pada tahun 2018 mendefinisikan psikologi Islam sebagai pendekatan holistik. Pendekatan ini membahas konsep manusia yang lebih fokus pada aspek hati dibandingkan pikiran. 

Selain itu, Dr. Aisha Utz (2011) mendefinsikan psikologi Islam sebagai studi tentang jiwa yang meliputi aspek perilaku, emosional, dan proses mental, baik terlihat maupun tak terlihat. Dengan kata lain, jiwa (soul) menjadi dorongan utama yang membentuk tingkah laku, emosi, dan proses mental manusia. Adapun, Dr. Rassool (2021) mendefinsikan psikologi Islam sebagai studi tentang jiwa, proses mental, dan tingkah laku manusia menurut prinsip ilmu psikologi dan Islam. Penjabaran lebih lanjut dari definisi ini dapat di lihat pada gambar di bawah ini.

Sumber: Islamic Psychology: Human Behaviour and Experience from an Islamic Perspective 
(Rasool, 2021, hal. 6)


Bagaimana Hakikat Manusia Menurut Psikologi Islam?

Psikologi Islam memandang manusia sebagai entitas yang bersifat duaistik, yaitu adanya proses yang terjadi antara tubuh dan jiwa. yang mana tubuh berfungsi sebagai “kendaraan” bagi jiwa. Dr. Aisha Utz (2011) menjelaskan beberapa istilah penting yang berkaitan dengan sifat manusia sebenarnya (The True Human Nature) sebagai berikut:

1. Fitrah 
Fitrah dapat didefinisikan sebagai sifat murni dalam diri manusia yang menuntun mereka untuk mengakui kebenaran Allah dan mengikuti petunjuk-Nya. Fitrah merupakan gift yang Allah tanamkan pada masing-masing jiwa (soul) manusia, sehingga karakteristik ini tidak akan pernah terpisahkan dari diri manusia sekalipun individu tersebut berpaling jauh dari petunjuk-Nya. Ketika manusia tengah berada pada situasi distress atau ketika dihadapkan pada permasalahan hidup yang tidak menyenangkan, secara alami (Fitrah), manusia akan kembali pada Allah SWT. 
Dengan kata lain, tujuan dari ujian yang senantiasa diberikan Allah pada setiap manusia adalah untuk membantu Fitrah mendobrak lapisan-lapisan keburukan yang telah menumpuk pada jiwa manusia seiring dengan perbuatan-perbuatan buruk yang telah dilakukannya.

2. Akidah, Iman, dan Psikologi 
Akidah diartikan sebagai sistem kepercayaan yang berdasarkan pada keyakinan teguh akan ke Esaan Allah yang berperan untuk memberikan tuntunan kepada jalan yang lurus. Selain itu, terdapat istilah iman yang sering diartikan dengan  keyakinan (faith). Iman merupakan energi bagi jiwa (soul) yang menyediakan kekuatan dan kemampuan untuk menyokong tugas-tugas esensial di dalam kehidupan manusia. 
Di dalam psikologi Islam, akidah, dan iman adalah dorongan esensial yang mendorong jiwa manusia menjadi entitas yang holistik. Selain itu, iman juga berkaitan dengan aspek lain seperti pikiran, emosi, motivasi, dan well-being.


3. The Nature of the Soul (Psyche) 
An Islamc model of soul (Rothman & Coyle 2018, hal. 1742)


Dalam membahas prinsip jiwa (soul), terdapat beberapa kata kunci sebagai berikut:
  • Ruh (Rooh/spirit/soul/breath of life
Ruh memberikan kehidupan bagi pikiran dan tubuh yang menjadi dorongan pada perasaan, pikiran, tingkah laku, dan keinginan manusia. Dalam hal ini, esensi ruh berbeda dengan tubuh manusia, ketika jiwa dicabut maka tubuh manusia tidak akan berfungsi (Utz, 2011).

  • Nafs (anfus/nufoos
Elemen lain yang menyusun pada jiwa (psyche) adalah Nafs. Ditinjau dari penggunaanya di Al-Quran, Nafs memiliki dua arti yaitu jiwa manusia (human soul) dan ego  (the self). Persamaan istilah dalam mendefiniskan kedua aspek tersebut mencerminkan hubungan yang tak terpisahkan antara jiwa dan ego. Adapun kombinasi dari jiwa dan ego akan tercermin pada tingkah laku dan karakter manusia (Utz, 2011). 

  • Akal (Aql/intellect
Selain adanya eleman ruh dan nafs yang membentuk manusia secara utuh, terdapat pula elemen lainnya yaitu Akal dan Hati. Rothman dan Coyle (2020) menjelaskan bahwa akal merupakan faktor pengatur dalam membantu orang membuat pilihan untuk mengendalikan kecenderungan destruktif dari nafs dan menggunakan kendali atasnya untuk mengarah manusia pada tindakan yang lebih disiplin dan keselarasan dengan fitrah. 

  • Hati (Qalb/heart
Dalam kerangka berpikir Islami, istilah hati sering diasosiasikan dengan rasa kasih sayang dan emosi. Selain itu, sering kali juga digunakan untuk merujuk pada tempat kedudukan intelektual dan kognitif, serta niat dan kemauan. Hati dapat disebut sebagai organ super-inderawi (super-sensory organ) yang menyadari kebenaran metafisik. Hati terhubung dengan jiwa sebagai komponen integral. Hati (qalb) tidak hanya merujuk pada organ fisik yang berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Lebih dari itu, hati mempunyai peran yang sangat signifikan dalam psikologi manusia karena pengaruhnya pada aspek spiritual manusia (Utz, 2011).

Apa yang membedakan ilmu psikologi Islam dan Barat?

Rothman dan Coyle (2020) menjabarkan perbandingan kajian psikologi barat dengan psikologi Islam dalam sebuah model yang disebut dengan “The iceberg model of Islamic psychotherapy” seperti yang ditampilkan pada gambar di bawah ini.

Sumber: The iceberg model of Islamic psychotherapy (Rothman & Coyle, 2020, hal. 34)

Dari model di atas, maka dapat dipahami bahwa yang menjadi pembeda jelas antara kajian psikologi islam dan barat adalah adanya aspek emotion (Qalb) dan spiritual (Ruh) dalam membahas tentang hakikat manusia dan kaitannya dengan psikologi. Pada aspek emosi, memang tidak semua aliran psikologi barat yang meniadakan aspek tersebut, hanya aliran-aliran tertentu seperti behavioristik yang memiliki pemahaman demikian. Namun, terkhusus pada aspek spiritual (Ruh), sebagian besar aliran psikologi mengabaikan bahkan tidak mempercayai bahwa apsek tersebut berperan dalam pembentukan perilaku manusia. Hal ini dikarenakan aspek spritiualitas bersifat tidak dapat diamati dan diukur (unobservable and unmeasurable) sehingga mematahkan syarat-syarat utamanya sebagai kajian ilmiah.


Sumber:

  1. Awaad, R., Ali, S. (2015). Obsessional disorders in al-balkhi′s 9th-century treatise: sustenance of the body and soul. Journal of Affective Disorders, 180, 185-189. doi: https://doi.org/10.1016/j.jad.2015.03.003
  2. Badrī, M. (1979). The dilemma of Muslim psychologists. London: MWH London.
  3. Parrott, J. (2017). How to be a mindful Muslim: an exercise in Islamic meditation. Yaqeen Institute for Islamic Research. Diakses dari: https://yaqeeninstitute.org/justin-parrott/how-to-be-a-mindful-muslim-an-exercise-in-Islamic-meditation/
  4. Rassool, G. H. (2021). Islamic Psychology. New York: Routledge
  5. Rothman, A. & Coyle, A. (2020). Conceptualizing an Islamic psychotherapy: A grounded theory study. Spirituality in Clinical Practice. American Psychological Association. doi:http://dx.doi.org/10.1037/scp0000219
  6. Rothman, A., & Coyle, A. (2018). Toward a framework for Islamic psychology and psychotherapy: An Islamic model of the soul. Journal of Religion & Health, 57(5), 1731-1744. doi:10.1007/s10943-018-0651-x
  7. Utz, A. (2011). Psychology from the Islamic perspective. Riyadh, Saudi Arabia: International Islamic Publishing House.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama